Kapanlagi.com, Rabu, 11 Maret 2009 21:15
Kelompok Tunanetra yang tergabung Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Kota Bandung mengeluhkan tidak adanya sosialisasi berbagai informasi
mengenai daftar nama-nama calon legislatif (caleg) DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kota yang harus dipilihnya dalam Pemilu 2009 mendatang.
Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Kota Bandung, Ade Rahmat saat pertemuan dengan anggota KPU Kota Bandung, Rabu (11/3) menuturkan informasi
ini dibutuhkan, karena adanya keharusan mencontreng caleg dan bukan hanya parpol.
"Berbeda dengan Pemilu lalu yang hanya menyoblos parpol maka kami membutuhkan informasi berupa buku dalam braille ataupun sosialisasi KPU kepada kelompok
tunanetra yang hingga kini masih belum diterima," katanya.
Ade juga mengritisi tidak adanya surat suara braille untuk Pemilu kali ini karena pendampingan saat melakukan penyoblosan sudah tidak lagi langsung, umum
dan rahasia. "Jika didampingi orang lain saat pencontrengan maka hak politik kami terpenuhi dan tidak dengan kerahasiaannya," katanya.
"Kami hanya ingin menegaskan bahwa tunanetra bukan orang sakit sehingga tidak perlu didampingi saat melakukan hak politiknya di bilik suara nanti," katanya.
Sementara itu Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bandung, Herry Sapari mengatakan pihaknya telah mengalokasikan anggaran untuk pembuatan template bagi
kelompok tunanetra dari APBD. "Namun karena payung hukum penggunaan APBD belum jelas maka pembuatannya terkendala," katanya.
"Kami akan segera mempertanyakan pengadaan template ini ke KPU Pusat karena hingga kini KPU Kota Bandung belum mengetahui apakah pengadaan braille tersebut
diakomodasi APBN atau tidak," katanya.
Terkait dengan sosialisasi di kelompok tunanetra, Herry menambahkan telah mengagendakan acara tersebut dalam beberapa hari kedepan. Jumlah kelompok tuna
netra di Kota Bandung berjumlah sekitar 2000 orang dan memiliki TPS tersendiri di Gedung Wyataguna Jalan Pajajaran, Kota Bandung.
Sejak Pemilu 2004, Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2008 dan Pemilihan Walikota Bandung 2008, KPU menganggarkan pengadaan template untuk kelompok tunanetra. (kpl/bar)
Blog ini memuat berita-berita tentang tunanetra atau yang terkait dengan ketunanetraan dan Pertuni.
Senin, 16 Maret 2009
Kamis, 05 Maret 2009
Alat Bantu Pemilu Tercipta, Tunanetra Bernapas Lega... (1)
Oleh: Inggried Dwi Wedhaswary, Kompas.com, Kamis, 5 Maret 2009 | 07:59 WIB
Hak memilih menjadi hak semua warga negara tanpa kecuali, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik, seperti tunanetra. Kini meski belum sepenuhnya terfasilitasi, pemilih tunanetra bisa menggunakan hak pilihnya secara mandiri. Sebuah alat bantu saat pemungutan suara telah tersedia.
Irwan Dwi Kustanto (43), seorang tunanetra, menjadi desainer yang ada di balik terciptanya alat bantu itu. Mata boleh tak melihat, tapi hati telah menggerakkannya untuk bekerja demi kesempatan politik bagi sesamanya.
Alat bantu pemilu tunanetra itu berupa template berhuruf braille yang memiliki ukuran sama persis seperti surat suara yang akan digunakan saat pemungutan suara. "Ukurannya benar-benar sama dengan surat suara. Surat suara itu dimasukkan ke template, seperti map yang di atasnya ada huruf braille," kata Irwan saat ditemui Kompas.com pekan lalu.
Ukuran template harus benar-benar sama dengan surat suara sehingga apa yang dibaca tunanetra pada template tersebut merupakan yang terdapat di surat suara. Pada Pemilu 2009 ini alat bantu pemilu sudah tersedia di 33 provinsi. "Namun, dari empat surat suara, baru pemilihan DPD dan presiden saja. Untuk DPR dan DPRD belum. Mungkin karena peserta dan calegnya banyak sehingga lebih kompleks," ujar Irwan yang juga menjabat Vice Executive Director Yayasan Mitra Netra.
Irwan pun mengisahkan bagaimana ide mendesain alat bantu itu muncul. Sebenarnya Irwan juga mendesain alat bantu untuk Pilpres 2004 yang saat itu hanya tersedia di delapan provinsi. Pada tahun ini Panitia Pemilu Akses Penyandang cacat (PPUA Penca) kembali meminta Mitra Netra untuk mendesain alat bantu pemilu.
"Dari pilot tahun 2004, pada pemilu tahun ini alat bantu sudah masuk dalam peraturan KPU yang harus ada, bukan pilot project lagi. Hak ini harus ada, kemudian PPUA meminta saya untuk mendesainkan," ujar Irwan.
Irwan bersama delapan rekannya di Mitra Netra dan tim PPUA yang berjumlah 20 orang akan melakukan validasi sebelum dan sesudah dicetak. Hal itu untuk memastikan bahwa tidak ada kesalahan dalam pencetakan. Sebab, cetakan huruf braille harus pas ukurannya.
"Kalau sudah oke baru bisa dikirim (ke seluruh Indonesia). Yang paling penting timbulnya braille harus bisa dibaca. Jangan terlalu tipis atau terlalu tebal. Bagaimana teman-teman bisa meraba karena membaca huruf braille tergantung yang dipegang jari," ujar ayah tiga putri ini.
Sebagai sosok yang dikenal sangat mendalami braille, Irwan juga menguasai penggunaan peranti lunak (software) yang memungkinkannya merancang alat bantu pemilu. Mitra Netra Braille Converter yang diciptakan oleh lembaga yang peduli pada hak-hak tunanetra itu menjadi sistem tumpuan.
Keterbatasan penglihatan tak ingin dipandang Irwan dan rekan-rekannya sebagai sebuah hambatan. Apalagi, menurut Irwan, dalam penggunaan hak pilih kerahasiaan harus menjadi hak semua warga negara, termasuk tunanetra.
Hak memilih menjadi hak semua warga negara tanpa kecuali, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik, seperti tunanetra. Kini meski belum sepenuhnya terfasilitasi, pemilih tunanetra bisa menggunakan hak pilihnya secara mandiri. Sebuah alat bantu saat pemungutan suara telah tersedia.
Irwan Dwi Kustanto (43), seorang tunanetra, menjadi desainer yang ada di balik terciptanya alat bantu itu. Mata boleh tak melihat, tapi hati telah menggerakkannya untuk bekerja demi kesempatan politik bagi sesamanya.
Alat bantu pemilu tunanetra itu berupa template berhuruf braille yang memiliki ukuran sama persis seperti surat suara yang akan digunakan saat pemungutan suara. "Ukurannya benar-benar sama dengan surat suara. Surat suara itu dimasukkan ke template, seperti map yang di atasnya ada huruf braille," kata Irwan saat ditemui Kompas.com pekan lalu.
Ukuran template harus benar-benar sama dengan surat suara sehingga apa yang dibaca tunanetra pada template tersebut merupakan yang terdapat di surat suara. Pada Pemilu 2009 ini alat bantu pemilu sudah tersedia di 33 provinsi. "Namun, dari empat surat suara, baru pemilihan DPD dan presiden saja. Untuk DPR dan DPRD belum. Mungkin karena peserta dan calegnya banyak sehingga lebih kompleks," ujar Irwan yang juga menjabat Vice Executive Director Yayasan Mitra Netra.
Irwan pun mengisahkan bagaimana ide mendesain alat bantu itu muncul. Sebenarnya Irwan juga mendesain alat bantu untuk Pilpres 2004 yang saat itu hanya tersedia di delapan provinsi. Pada tahun ini Panitia Pemilu Akses Penyandang cacat (PPUA Penca) kembali meminta Mitra Netra untuk mendesain alat bantu pemilu.
"Dari pilot tahun 2004, pada pemilu tahun ini alat bantu sudah masuk dalam peraturan KPU yang harus ada, bukan pilot project lagi. Hak ini harus ada, kemudian PPUA meminta saya untuk mendesainkan," ujar Irwan.
Irwan bersama delapan rekannya di Mitra Netra dan tim PPUA yang berjumlah 20 orang akan melakukan validasi sebelum dan sesudah dicetak. Hal itu untuk memastikan bahwa tidak ada kesalahan dalam pencetakan. Sebab, cetakan huruf braille harus pas ukurannya.
"Kalau sudah oke baru bisa dikirim (ke seluruh Indonesia). Yang paling penting timbulnya braille harus bisa dibaca. Jangan terlalu tipis atau terlalu tebal. Bagaimana teman-teman bisa meraba karena membaca huruf braille tergantung yang dipegang jari," ujar ayah tiga putri ini.
Sebagai sosok yang dikenal sangat mendalami braille, Irwan juga menguasai penggunaan peranti lunak (software) yang memungkinkannya merancang alat bantu pemilu. Mitra Netra Braille Converter yang diciptakan oleh lembaga yang peduli pada hak-hak tunanetra itu menjadi sistem tumpuan.
Keterbatasan penglihatan tak ingin dipandang Irwan dan rekan-rekannya sebagai sebuah hambatan. Apalagi, menurut Irwan, dalam penggunaan hak pilih kerahasiaan harus menjadi hak semua warga negara, termasuk tunanetra.
Senin, 02 Maret 2009
Pertuni Minta Surat Suara Braille
Pikiran Rakyat, Minggu, 01 Maret 2009
TASIKMALAYA, (PRLM).- Ketua Pertuni (Persatuan Tuna Netra Indonesia) Kab. Tasikmalaya, Hendrayana minta, agar pemerintah menyediakan surat suara pada Pemilu 2009 menggunakan huruf braille, supaya dirinya dan anggota penyandang cacat netra di wilayah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya bisa memberikan hak pilihnya.
Hal itu dikemukakan Hendrayana kepada wartawan usai mengikuti sosialisasi Pemilu 2009 di Yayasan Bahagia Karoeng, Sabtu (28/2). Menurutnya, kalau pemerintah tidak menyediakan alat bantu bagi para penyandang cacat netra, kemungkinan akan sulit melaksanakan Pemilu secara bebas dan rahasia, sambil menyebutkan selama ini belum ada seorang calon legislatif yang menghubungi dan datang kepada dirinya maupun organsiasi.
Pada sosialisasi Pemilu 2009 di Yayasan Bahagia Karoeng, yang dilakukan KPUD Kota Tasikmalaya, Sabtu kemarin, para penyandang cacat netra tidak menemukan selembar contoh kertas atau surat suara yang dilengkapi dengan huruf braille. Sementara, contoh surat suara yang ada pada sosialisasi tersebut hanya yang biasa lazim digunakan oleh setiap orang normal. Padahal menurut Hendrayana, pada pemilihan Walikota Tasikmalaya tempo disediakan surat suara khusus untuk para penyandang cacat netra.
Anggota KPUD Kota Tasikmalya, Yusuf mengatakan, pada waktunya nanti pihak KPU menyediakan surat suara khusus bagi para tuna netra. "Hari ini (kemarin, red) kami tidak membawanya, karena surat suara tersebut berukuran besar, jadi kemungkinan pada waktunya nanti akan digunakan," katanya.
Diperoleh keterangan, sekitar 4.000 penyandang cacat terdiri dari tuna netra, tuna rungu dan wicara, serta tuna grahita yang tercatat di Tasikmalaya. Dari sejumlah itu, hanya sekitar 10 persen atau 400 oranng yang mempunyai hak pilih. Sekitar 50 tuna netra, tuna grahita, tuna rungu dan tuna wicara, Sabtu kemarin mengikuti sosialisasi Pemilu 2009 di Yayasan Bahagia Karoeng. (A-14/A-26).
TASIKMALAYA, (PRLM).- Ketua Pertuni (Persatuan Tuna Netra Indonesia) Kab. Tasikmalaya, Hendrayana minta, agar pemerintah menyediakan surat suara pada Pemilu 2009 menggunakan huruf braille, supaya dirinya dan anggota penyandang cacat netra di wilayah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya bisa memberikan hak pilihnya.
Hal itu dikemukakan Hendrayana kepada wartawan usai mengikuti sosialisasi Pemilu 2009 di Yayasan Bahagia Karoeng, Sabtu (28/2). Menurutnya, kalau pemerintah tidak menyediakan alat bantu bagi para penyandang cacat netra, kemungkinan akan sulit melaksanakan Pemilu secara bebas dan rahasia, sambil menyebutkan selama ini belum ada seorang calon legislatif yang menghubungi dan datang kepada dirinya maupun organsiasi.
Pada sosialisasi Pemilu 2009 di Yayasan Bahagia Karoeng, yang dilakukan KPUD Kota Tasikmalaya, Sabtu kemarin, para penyandang cacat netra tidak menemukan selembar contoh kertas atau surat suara yang dilengkapi dengan huruf braille. Sementara, contoh surat suara yang ada pada sosialisasi tersebut hanya yang biasa lazim digunakan oleh setiap orang normal. Padahal menurut Hendrayana, pada pemilihan Walikota Tasikmalaya tempo disediakan surat suara khusus untuk para penyandang cacat netra.
Anggota KPUD Kota Tasikmalya, Yusuf mengatakan, pada waktunya nanti pihak KPU menyediakan surat suara khusus bagi para tuna netra. "Hari ini (kemarin, red) kami tidak membawanya, karena surat suara tersebut berukuran besar, jadi kemungkinan pada waktunya nanti akan digunakan," katanya.
Diperoleh keterangan, sekitar 4.000 penyandang cacat terdiri dari tuna netra, tuna rungu dan wicara, serta tuna grahita yang tercatat di Tasikmalaya. Dari sejumlah itu, hanya sekitar 10 persen atau 400 oranng yang mempunyai hak pilih. Sekitar 50 tuna netra, tuna grahita, tuna rungu dan tuna wicara, Sabtu kemarin mengikuti sosialisasi Pemilu 2009 di Yayasan Bahagia Karoeng. (A-14/A-26).
Kamis, 25 Desember 2008
Sosial-Kemasyarakatan:Pertuni Lampung Masih Tertinggal
Lampung Post, Minggu, 10 Februari 2008
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Perkembangan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) di Lampung masih tertinggal jauh dari provinsi
lain di Jawa.
Sejak berdiri 20 Desember 1974, Pertuni Lampung belum terakomodasi dalam sebuah aturan khusus oleh pemda. Selain itu, aktivitas berorganisasi juga masih
terbatas karena ketidakmampuan finansial.
"Padahal, Pertuni Lampung berdiri pertama kali di Sumatera dan yang kesembilan di Indonesia," kata Ketua Dewan Pertimbangan Pertuni Lampung Ridwan Effendi,
Sabtu (9-2), bertepatan dengan peringatan HUT ke-42 Pertuni.
Menurut Ridwan, sejumlah Pertuni di Indonesia sudah diakomodasi dalam Perda. Antara lain Pertuni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Yogyakarta, Bali,
Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, NAD, dan Sumatera Utara.
Menurut dia, Perda akan memperjelas keberadaan Pertuni sebagai ormas yang beranggotakan penyandang tunanetra. Aturan yang jelas juga akan memudahkan kegiatan
mereka.
Pertuni Lampung sudah menyampaikan usulan itu kepada Pemprov Lampung. Saat Rapat Kerja Daerah (Rakerda) 29 Oktober 2007 lalu juga telah merekomendasikan
usulan itu kepada pemerintah provinsi, kota, dan kabupaten. "Tapi, belum ada respons," kata Sekretaris Pertuni Lampung Daman Purnama. */X-2
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Perkembangan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) di Lampung masih tertinggal jauh dari provinsi
lain di Jawa.
Sejak berdiri 20 Desember 1974, Pertuni Lampung belum terakomodasi dalam sebuah aturan khusus oleh pemda. Selain itu, aktivitas berorganisasi juga masih
terbatas karena ketidakmampuan finansial.
"Padahal, Pertuni Lampung berdiri pertama kali di Sumatera dan yang kesembilan di Indonesia," kata Ketua Dewan Pertimbangan Pertuni Lampung Ridwan Effendi,
Sabtu (9-2), bertepatan dengan peringatan HUT ke-42 Pertuni.
Menurut Ridwan, sejumlah Pertuni di Indonesia sudah diakomodasi dalam Perda. Antara lain Pertuni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Yogyakarta, Bali,
Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, NAD, dan Sumatera Utara.
Menurut dia, Perda akan memperjelas keberadaan Pertuni sebagai ormas yang beranggotakan penyandang tunanetra. Aturan yang jelas juga akan memudahkan kegiatan
mereka.
Pertuni Lampung sudah menyampaikan usulan itu kepada Pemprov Lampung. Saat Rapat Kerja Daerah (Rakerda) 29 Oktober 2007 lalu juga telah merekomendasikan
usulan itu kepada pemerintah provinsi, kota, dan kabupaten. "Tapi, belum ada respons," kata Sekretaris Pertuni Lampung Daman Purnama. */X-2
Federasi Tunanetra Jerman Bantu 60 Tunanetra Aceh
Republika, Selasa, 20 Desember 2005
Banda Aceh-RoL –
Federasi tunanetra Jerman, menyalurkan berbagai bantuan kemanusiaan kepada sebanyak 60 orang kaum senasib (tunanetra) dari berbagai kabupaten/kota
di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang tergabung dalam Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni).
"DPP Pertuni telah bekerjasama dengan berbagai pihak, baik dalam maupun luar negeri untuk meringankan beban masyarakat tunanetra di NAD, terutama mereka
yang telah kehilangan tempat tinggal dalam musibah gempa dan tsunami akhir tahun lalu," kata Ketua tim bantuan untuk masyarakat tunanetra NAD, Tri Bagio,
di Banda Aceh, Selasa.
Bantuan untuk masyarakat tunanetra di NAD itu berhasil dikumpulkan pasca bencana alam gempa dan tsunami, 26 Desember 2004, itu atas kerjasama dengan berbagai
pihak, seperti Ikatan Alumni Sekolah Luar Biasa (SLB) Pemalang, Christofel Blinden Mission (CBS) dan Federasi Tunanetra Jerman.
Disebutkan, bantuan masa tanggap darurat yang disalurkan dari Tunanetra Jerman dan donatur lainnya itu antara lain berupa alat tulis Braille sebanyak 280
buah, mesin ketik kepada tujuh SLB, tongkat putih 280 buah dan beasiswa untuk 52 siswa yatim piatu selama setahun dengan nilai sebesar Rp50.000/bulan.
Selanjutnya, bantuan sembako senilai Rp200.000/orang untuk lebih dari 272 orang serta peralatan rumah tangga bagi yang sudah berkeluarga masing-masing
senilai Rp50.000 kata Tri Bagio.
Bantuan lainnya yang disumbangkan federasi tunanetra Jerman pada masa rekonstruksi, tambah dia, antara lain merenovasi terhadap 75 unit rumah tunanetra
dengan rincian masing-masing memperoleh sebesar Rp10.000.000/unit. Sebanyak 27 unit rumah tunanetra yang rusak parah akan dibangun kembali dengan rincian
anggaran masing-masing memperoleh bantuan sebesar Rp28.000.000, kata Tri Bagio.
Selain itu, Pertuni juga menurunkan tim layanan lemah penglihatan (low vision) untuk mengidentifikasi jumlah penyandang lemah penglihatan baik dari anak-anak
maupun kelompok orang dewasa di provinsi ujung paling barat Indonesia ini. "Tim itu dibentuk guna mengetahui jumlah penyangdang lemah penglihatan dan teknik
penanganannya baik secara medis, rehabilitasi dan pendidikan akibat bencana alam tsunami," kata dia.
Banda Aceh-RoL –
Federasi tunanetra Jerman, menyalurkan berbagai bantuan kemanusiaan kepada sebanyak 60 orang kaum senasib (tunanetra) dari berbagai kabupaten/kota
di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang tergabung dalam Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni).
"DPP Pertuni telah bekerjasama dengan berbagai pihak, baik dalam maupun luar negeri untuk meringankan beban masyarakat tunanetra di NAD, terutama mereka
yang telah kehilangan tempat tinggal dalam musibah gempa dan tsunami akhir tahun lalu," kata Ketua tim bantuan untuk masyarakat tunanetra NAD, Tri Bagio,
di Banda Aceh, Selasa.
Bantuan untuk masyarakat tunanetra di NAD itu berhasil dikumpulkan pasca bencana alam gempa dan tsunami, 26 Desember 2004, itu atas kerjasama dengan berbagai
pihak, seperti Ikatan Alumni Sekolah Luar Biasa (SLB) Pemalang, Christofel Blinden Mission (CBS) dan Federasi Tunanetra Jerman.
Disebutkan, bantuan masa tanggap darurat yang disalurkan dari Tunanetra Jerman dan donatur lainnya itu antara lain berupa alat tulis Braille sebanyak 280
buah, mesin ketik kepada tujuh SLB, tongkat putih 280 buah dan beasiswa untuk 52 siswa yatim piatu selama setahun dengan nilai sebesar Rp50.000/bulan.
Selanjutnya, bantuan sembako senilai Rp200.000/orang untuk lebih dari 272 orang serta peralatan rumah tangga bagi yang sudah berkeluarga masing-masing
senilai Rp50.000 kata Tri Bagio.
Bantuan lainnya yang disumbangkan federasi tunanetra Jerman pada masa rekonstruksi, tambah dia, antara lain merenovasi terhadap 75 unit rumah tunanetra
dengan rincian masing-masing memperoleh sebesar Rp10.000.000/unit. Sebanyak 27 unit rumah tunanetra yang rusak parah akan dibangun kembali dengan rincian
anggaran masing-masing memperoleh bantuan sebesar Rp28.000.000, kata Tri Bagio.
Selain itu, Pertuni juga menurunkan tim layanan lemah penglihatan (low vision) untuk mengidentifikasi jumlah penyandang lemah penglihatan baik dari anak-anak
maupun kelompok orang dewasa di provinsi ujung paling barat Indonesia ini. "Tim itu dibentuk guna mengetahui jumlah penyangdang lemah penglihatan dan teknik
penanganannya baik secara medis, rehabilitasi dan pendidikan akibat bencana alam tsunami," kata dia.
Tunanetra Jakarta Butuh Alquran Braile
Republika, 29 Nopember 2007
Lantunan ayat-ayat suci Alquran yang dibawakan Sapto Waluyo (26 tahun) menggema di ruang pertemuan SLB Lebak Bulus
Jakarta Selatan Selasa (27/11) siang lalu. Kekurangsempurnaan panca indranya, sama sekali tak membuat mahasiswa semester delapan Fakultas Ushuluddin Universitas
Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini patah semangat untuk mempelajari kalam ilahi.
Pemahamannya yang baik di bidang Ilmu tajwid, melengkapi suaranya yang indah dan jelas saat dia mengaji. Banyak wartawan dan staf BP ZIS (Badan Pengelola
Zakat, Infak dan Sedekah) Bank Mandiri merasa haru mendengar suara emas Sapto Waluyo. Suaranya pun sangat indah dan jelas membaca hurup demi hurup dari
Alquran Braile. Dia yang cacat saja, begitu indah bacaanya. Bagaimana dengan kita yang sempurna seluruh panca indra,'' tandas seorang wartawan haru.
Menurut Bayu Iwan Yulianto, ketua Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia) DKI Jakarta, saat ini tidak sedikit tunanetra yang membutuhkan kitab suci Alquran
Braile. ''Menurut catatan tahun 2003 jumlah tunanetra yang terdaftar di Pertuni Jakarta sebanyak 4.000 orang lebih. Sedangkan Alquran Braile yang baru
dimiliki sebanyak 500 set,'' ujar Bayu kepada Republika.
Bahkan dalam catatan Yogi Madsuni, ketua I Pertuni DKI Jakarta, saat ini jumlah tunanetra yang ada di wilayah Jakarta tak kurang dari 7.000 orang. ''Kalau
Alquran Braile yang baru dimiliki oleh lembaga maupun perorangan baru sebanyak 500 set, maka Alquran Braile yang dibutuhkan masih sangat banyak. Inilah
perlunya kami mendapatkan uluran tangan seperti yang dilakukan BP ZIS Bank Mandiri hari ini,'' tegas Yogi penuh harap.
Baik Bayu maupun Yogi sepakat, kebutuhan terhadap Alquran Braile di Jakarta masih cukup besar. ''Dan harus diakui hingga kini karena alasan percetakan dan
sebagainya, harga per unit Alquran Braile cukup mahal, ada yang harganya Rp 800 ribu, Rp 1, 2 juta ada juga yang harganya sampai Rp 1,5 juta. Jadi, bagi
kami yang tunanetra, harga Alquran Braile masih sangat mahal,'' kata Bayu.
Direktur BP ZIS Bank Mandiri, Taufik Hidayat menjelaskan, lembaganya sangat komitmen untuk membantu para tunanetra lebih mendalami kitab suci Alquran Braile.
Kepedulian pihaknya terhadap tunanetra dengan membantu menyediakan Alquran Braile sudah dilaunching dua tahun lalu. Waktu itu pihaknya sempat undang Ustadz
Yusuf Mansur untuk mengadakan taushiyah sekalian menyerahkan bantuan kitab suci Alquran Braile yang waktu itu terkumpul bantuan sebesar Rp 26 juta yang
kami serahkan ke lembaga tunanetra di Cipondoh Tangerang.
''Hari ini yang bisa kami serahkan 10 set Alquran plus biaya untuk pelatihan mengenal hurup Alquran Braile. Total hingga saat ini sudah 60 Alquran Braile
yang kami sumbangkan kepada para tunanetra,'' ungkap Taufik Hidayat. Menurut Taufik, pihaknya sengaja memberikan bantuan tidak seluruhnya dalam bentuk
Alquran Braile tapi untuk membantu pelatihan mengenal aksara Alquran Braile. ''Yang normal saja susah membaca Alquran, apalagi dengan menggunakan hurup
Braile. Tentu harus ada upaya dari berbagai pihak agar para tunanetra yang belum bisa membaca Alquran, mendapat pelatihan sehingga bisa membaca Alquran
Braile,'' jelasnya.
Perbedaan yang sangat mencolok antara Alquran biasa dengan Alquran Braile, jika Alquran biasa 30 juz tebalnya paling satu buku, jadi tebalnya tidak seberapa
bahkan sekarang banyak yang sudah dimodifikasi kecil-kecil sehingga lebih praktis, maka Alquran Braile tidak bisa dimodifikasi seperti itu. Untuk setiap
satu juz Alquran Braile bisa jadi satu buku. ''Jadi 30 juz 30 buku. ini yang membuat harga Alquran Braile menjadi lebih mahal ketimbang harga Alquran biasa,''
ujarnya.
Diakuinya, selama ini bantuan dari lembaga semisal BP ZIS Bank Mandiri belum terlalu banyak. ''Makanya kami sangat berterima kasih kepada BP ZIS Bank Mandiri
yang sudah peduli terhadap kehidupan para tunanetra. Terus terang, jarang-jarang ada lembaga yang konsen seperti ini. Kita juga pernah menerima bantuan
dari Departemen Agama sebanyak 27 set yang alhamdulillah sudah kita bagikan kepada teman-teman tunanetra di berbagai wilayah Jakarta.''
Yang menjadi kendala bagi para tunanerta di ibu kota, sambung Bayu, setelah sejumlah Alquran Braile tersebar yang merupakan sumbangan dari berbagai pihak
baik perorangan maupun lembaga. Yang tidak kalah penting untuk dilakukan adalah pengentasan buta aksara Alquran Braile.
Penulis: N. Damanhuri Zuhri
Lantunan ayat-ayat suci Alquran yang dibawakan Sapto Waluyo (26 tahun) menggema di ruang pertemuan SLB Lebak Bulus
Jakarta Selatan Selasa (27/11) siang lalu. Kekurangsempurnaan panca indranya, sama sekali tak membuat mahasiswa semester delapan Fakultas Ushuluddin Universitas
Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini patah semangat untuk mempelajari kalam ilahi.
Pemahamannya yang baik di bidang Ilmu tajwid, melengkapi suaranya yang indah dan jelas saat dia mengaji. Banyak wartawan dan staf BP ZIS (Badan Pengelola
Zakat, Infak dan Sedekah) Bank Mandiri merasa haru mendengar suara emas Sapto Waluyo. Suaranya pun sangat indah dan jelas membaca hurup demi hurup dari
Alquran Braile. Dia yang cacat saja, begitu indah bacaanya. Bagaimana dengan kita yang sempurna seluruh panca indra,'' tandas seorang wartawan haru.
Menurut Bayu Iwan Yulianto, ketua Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia) DKI Jakarta, saat ini tidak sedikit tunanetra yang membutuhkan kitab suci Alquran
Braile. ''Menurut catatan tahun 2003 jumlah tunanetra yang terdaftar di Pertuni Jakarta sebanyak 4.000 orang lebih. Sedangkan Alquran Braile yang baru
dimiliki sebanyak 500 set,'' ujar Bayu kepada Republika.
Bahkan dalam catatan Yogi Madsuni, ketua I Pertuni DKI Jakarta, saat ini jumlah tunanetra yang ada di wilayah Jakarta tak kurang dari 7.000 orang. ''Kalau
Alquran Braile yang baru dimiliki oleh lembaga maupun perorangan baru sebanyak 500 set, maka Alquran Braile yang dibutuhkan masih sangat banyak. Inilah
perlunya kami mendapatkan uluran tangan seperti yang dilakukan BP ZIS Bank Mandiri hari ini,'' tegas Yogi penuh harap.
Baik Bayu maupun Yogi sepakat, kebutuhan terhadap Alquran Braile di Jakarta masih cukup besar. ''Dan harus diakui hingga kini karena alasan percetakan dan
sebagainya, harga per unit Alquran Braile cukup mahal, ada yang harganya Rp 800 ribu, Rp 1, 2 juta ada juga yang harganya sampai Rp 1,5 juta. Jadi, bagi
kami yang tunanetra, harga Alquran Braile masih sangat mahal,'' kata Bayu.
Direktur BP ZIS Bank Mandiri, Taufik Hidayat menjelaskan, lembaganya sangat komitmen untuk membantu para tunanetra lebih mendalami kitab suci Alquran Braile.
Kepedulian pihaknya terhadap tunanetra dengan membantu menyediakan Alquran Braile sudah dilaunching dua tahun lalu. Waktu itu pihaknya sempat undang Ustadz
Yusuf Mansur untuk mengadakan taushiyah sekalian menyerahkan bantuan kitab suci Alquran Braile yang waktu itu terkumpul bantuan sebesar Rp 26 juta yang
kami serahkan ke lembaga tunanetra di Cipondoh Tangerang.
''Hari ini yang bisa kami serahkan 10 set Alquran plus biaya untuk pelatihan mengenal hurup Alquran Braile. Total hingga saat ini sudah 60 Alquran Braile
yang kami sumbangkan kepada para tunanetra,'' ungkap Taufik Hidayat. Menurut Taufik, pihaknya sengaja memberikan bantuan tidak seluruhnya dalam bentuk
Alquran Braile tapi untuk membantu pelatihan mengenal aksara Alquran Braile. ''Yang normal saja susah membaca Alquran, apalagi dengan menggunakan hurup
Braile. Tentu harus ada upaya dari berbagai pihak agar para tunanetra yang belum bisa membaca Alquran, mendapat pelatihan sehingga bisa membaca Alquran
Braile,'' jelasnya.
Perbedaan yang sangat mencolok antara Alquran biasa dengan Alquran Braile, jika Alquran biasa 30 juz tebalnya paling satu buku, jadi tebalnya tidak seberapa
bahkan sekarang banyak yang sudah dimodifikasi kecil-kecil sehingga lebih praktis, maka Alquran Braile tidak bisa dimodifikasi seperti itu. Untuk setiap
satu juz Alquran Braile bisa jadi satu buku. ''Jadi 30 juz 30 buku. ini yang membuat harga Alquran Braile menjadi lebih mahal ketimbang harga Alquran biasa,''
ujarnya.
Diakuinya, selama ini bantuan dari lembaga semisal BP ZIS Bank Mandiri belum terlalu banyak. ''Makanya kami sangat berterima kasih kepada BP ZIS Bank Mandiri
yang sudah peduli terhadap kehidupan para tunanetra. Terus terang, jarang-jarang ada lembaga yang konsen seperti ini. Kita juga pernah menerima bantuan
dari Departemen Agama sebanyak 27 set yang alhamdulillah sudah kita bagikan kepada teman-teman tunanetra di berbagai wilayah Jakarta.''
Yang menjadi kendala bagi para tunanerta di ibu kota, sambung Bayu, setelah sejumlah Alquran Braile tersebar yang merupakan sumbangan dari berbagai pihak
baik perorangan maupun lembaga. Yang tidak kalah penting untuk dilakukan adalah pengentasan buta aksara Alquran Braile.
Penulis: N. Damanhuri Zuhri
Teknologi Telah "Berdamai" dengan Kami!
PIKIRAN RAKYAT, Minggu, 3 Agustus 2008
Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah basis kemajuan suatu bangsa. Manakala teknologi bermanfaat bagi umat manusia.
kecelakaan mobil menimpanya tahun 1978. Kecelakaan itu membuat Ted Henter kehilangan penglihatannya. Dengan begitu, hilang pula kariernya sebagai seorang pembalap motor. Waktu itu ia berumur 27 tahun.
Dia adalah insinyur dari University of Florida. Tetapi, setelah kebutaannya, ia belajar program komputer dan seorang pebisnis. Tahun 1987 ia mendirikan Henter-Joyce bersama kawannya Bill Joyce. Hasinya, dua tahun berikutnya mereka bisa membuat program pembaca layar, Job Access With Speech (JAWS) untuk operasionalisasi Disk Operating System (DOS).
Teknologi ini terus berkembang, hingga akhirnya perusahaan perangkat lunak terbesar Microsoft mengambil alih pengembangannya pada 1992. Tiga tahun berikutnya, di bulan Januari, Microsoft mengeluarkan JAWS for Windows version 1.9. Rata-rata sekali setahun versi terbarunya keluar. Dan, November 2007, telah keluar JAWS versi 9.0. Teknologi ini diperjualbelikan seharga 895 dolar AS untuk versi standar.
Dan, teknologi lain juga dikembangkan oleh sebuah konsorsium nonprofit bernama Digital Accessible Information System (DAISY). Mereka memproduksi "buku bicara". Belakangan, tahun 2008, Microsoft bekerja sama dengan Sonata Software dan DAISY merilis DAISY XML format, yang bisa menerjemahkan data dokumen. Peranti ini keluar dengan lisensi open source, yang bisa diunduh bebas.
Setara
Sebagian tunanetra yang tidak memiliki perangkat komputer, masih mengandalkan pola belajar dari kaset rekaman. Sedangkan untuk buku-buku baru, mereka bisa meminta tenaga pembimbing belajar untuk membacakannya. Maklum saja, produksi buku dengan huruf braille sangat jauh tertinggal.
Dari para pemakai komputer tunanetra yang Kampus hubungi mereka banyak memakai aplikasi JAWS. Dengan aplikasi itu, mereka pun sudah tidak repot saat belajar. Bagi mereka yang sudah memiliki komputer PC atau jinjing, belajar pun menjadi lebih mudah.
Seperti pengalaman Didi Tarsidi, Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia, ia biasa menggunakan JAWS untuk menulis dan membaca aneka artikel. Dengan bantuan scanner, ia salin semua artikel dan isi buku ke dalam komputernya. Setelahnya, ia tinggal "membaca" salinannya. "Kerja kami memang dobel. Tetapi, usaha keras untuk maju adalah cita-cita kami. Teknologi memang membantu kami," ujarnya.
Dengan JAWS, tunanetra saat ini juga bisa mengarungi dunia maya. Mereka bisa membuat blog sendiri atau situs kelompok mereka. Dua situs yang terbilang aktif, ada mitranetra.or.id, konetif.org dan kartunet.com. Konetif kependekan dari Komunitas Tunanetra Kreatif.
Situs mitranetra adalah situs yayasan yang ingin memberi pendidikan dan pengembangan para tunanetra di Indonesia. Dibangun 14 Mei 1991, situs ini juga sebagai media informasi ke dunia global tentang kondisi tunanetra di Indonesia.
Dua situs lainnya, www.sites.konetif.org dan www.kartunet.com dibangun oleh kelompok pelajar dan mahasiswa tunanetra. Keduanya ingin menjadi tempat untuk pengembangan kreativitas para tunanetra.
"Agar orang bisa melihat kemampuan kami para tunanetra," ujar Irawan Mulyanto, salah seorang pendiri situs kartunet.com. Pernyataan yang hampir sama juga diutarakan oleh pengelola situs konetif.
"Obsesi kami sederhana, yaitu kami mendapat tempat yang sama dengan manusia pada umumnya," tutur Rizky Harta Cipta. Ia adalah jebolan Fakultas Hukum Unpad dan sedang menyelesaikan program pascasarjana di Program Pascasarjana Hukum Bisnis Unpad.
Rizki jelas bukan bermaksud ingin menyombongkan diri. Akan tetapi, sudah rahasia umum orang memandang miring pada kemampuan tunanetra atau mereka yang cacat tubuh lainnya. Padahal, banyak dari tunanetra yang berprestasi. Dan, teknologi telah berdamai dengan tunanetra. Kini, lingkungan sosialnya bagaimana?***
Penulis:
agus rakasiwi
kampus_pr@yahoo.com
Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah basis kemajuan suatu bangsa. Manakala teknologi bermanfaat bagi umat manusia.
kecelakaan mobil menimpanya tahun 1978. Kecelakaan itu membuat Ted Henter kehilangan penglihatannya. Dengan begitu, hilang pula kariernya sebagai seorang pembalap motor. Waktu itu ia berumur 27 tahun.
Dia adalah insinyur dari University of Florida. Tetapi, setelah kebutaannya, ia belajar program komputer dan seorang pebisnis. Tahun 1987 ia mendirikan Henter-Joyce bersama kawannya Bill Joyce. Hasinya, dua tahun berikutnya mereka bisa membuat program pembaca layar, Job Access With Speech (JAWS) untuk operasionalisasi Disk Operating System (DOS).
Teknologi ini terus berkembang, hingga akhirnya perusahaan perangkat lunak terbesar Microsoft mengambil alih pengembangannya pada 1992. Tiga tahun berikutnya, di bulan Januari, Microsoft mengeluarkan JAWS for Windows version 1.9. Rata-rata sekali setahun versi terbarunya keluar. Dan, November 2007, telah keluar JAWS versi 9.0. Teknologi ini diperjualbelikan seharga 895 dolar AS untuk versi standar.
Dan, teknologi lain juga dikembangkan oleh sebuah konsorsium nonprofit bernama Digital Accessible Information System (DAISY). Mereka memproduksi "buku bicara". Belakangan, tahun 2008, Microsoft bekerja sama dengan Sonata Software dan DAISY merilis DAISY XML format, yang bisa menerjemahkan data dokumen. Peranti ini keluar dengan lisensi open source, yang bisa diunduh bebas.
Setara
Sebagian tunanetra yang tidak memiliki perangkat komputer, masih mengandalkan pola belajar dari kaset rekaman. Sedangkan untuk buku-buku baru, mereka bisa meminta tenaga pembimbing belajar untuk membacakannya. Maklum saja, produksi buku dengan huruf braille sangat jauh tertinggal.
Dari para pemakai komputer tunanetra yang Kampus hubungi mereka banyak memakai aplikasi JAWS. Dengan aplikasi itu, mereka pun sudah tidak repot saat belajar. Bagi mereka yang sudah memiliki komputer PC atau jinjing, belajar pun menjadi lebih mudah.
Seperti pengalaman Didi Tarsidi, Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia, ia biasa menggunakan JAWS untuk menulis dan membaca aneka artikel. Dengan bantuan scanner, ia salin semua artikel dan isi buku ke dalam komputernya. Setelahnya, ia tinggal "membaca" salinannya. "Kerja kami memang dobel. Tetapi, usaha keras untuk maju adalah cita-cita kami. Teknologi memang membantu kami," ujarnya.
Dengan JAWS, tunanetra saat ini juga bisa mengarungi dunia maya. Mereka bisa membuat blog sendiri atau situs kelompok mereka. Dua situs yang terbilang aktif, ada mitranetra.or.id, konetif.org dan kartunet.com. Konetif kependekan dari Komunitas Tunanetra Kreatif.
Situs mitranetra adalah situs yayasan yang ingin memberi pendidikan dan pengembangan para tunanetra di Indonesia. Dibangun 14 Mei 1991, situs ini juga sebagai media informasi ke dunia global tentang kondisi tunanetra di Indonesia.
Dua situs lainnya, www.sites.konetif.org dan www.kartunet.com dibangun oleh kelompok pelajar dan mahasiswa tunanetra. Keduanya ingin menjadi tempat untuk pengembangan kreativitas para tunanetra.
"Agar orang bisa melihat kemampuan kami para tunanetra," ujar Irawan Mulyanto, salah seorang pendiri situs kartunet.com. Pernyataan yang hampir sama juga diutarakan oleh pengelola situs konetif.
"Obsesi kami sederhana, yaitu kami mendapat tempat yang sama dengan manusia pada umumnya," tutur Rizky Harta Cipta. Ia adalah jebolan Fakultas Hukum Unpad dan sedang menyelesaikan program pascasarjana di Program Pascasarjana Hukum Bisnis Unpad.
Rizki jelas bukan bermaksud ingin menyombongkan diri. Akan tetapi, sudah rahasia umum orang memandang miring pada kemampuan tunanetra atau mereka yang cacat tubuh lainnya. Padahal, banyak dari tunanetra yang berprestasi. Dan, teknologi telah berdamai dengan tunanetra. Kini, lingkungan sosialnya bagaimana?***
Penulis:
agus rakasiwi
kampus_pr@yahoo.com
Langganan:
Postingan (Atom)