A. DPD NTT
1. Pembukaan
Tanggal 02 Agustus 2010 Pkl. 09.00 s.d 11.00 WIB
Proses/Pelaksanaan Pelatihan : Pkl. 13.00 s.d …..
2. Penutupan
Tanggal 06 Agustus 2010 Pkl. 15.00 s.d …..
3. Tempat Pelaksanaan Pembukaan/Pelatihan:
Jalan Matahari No. 60 Kupang
Hotel Ledetadu Penfui Kupang
4. Jumlah Peserta: 42 Orang
Terdiri dari:
• Utusan Pengurus DPD, DPC Pertuni se-NTT
• Utusan Lembaga
• Utusan anggota, Guru, dan Kader
B. DPD Bali
1. Pembukaan
Tanggal 09 Agustus 2010 Pkl. 09.00 s.d 11.00 WIB
Proses/Pelaksanaan Pelatihan : Pkl. 13.00 s.d …..
2. Penutupan
Tanggal 13 Agustus 2010 Pkl. 15.00 s.d …..
3. Tempat Pelaksanaan Pembukaan:
Aula SLBN Denpasar Jl. Serma GedeNo. 11
Tempat Pelaksanaan pelatihan:
Renon Denpasar
4. Jumlah Peserta: 16 Orang
Terdiri dari:
• Utusan Pengurus DPD, DPC Pertuni se-Bali
• Utusan Lembaga
• Utusan anggota, dan Guru
C. DPD DI Yogyakarta
1. Upacara Pembukaan dan acara buka puasa bersama
Tanggal 16 Agustus 2010 Pkl. 19.00 s.d 21.00 WIB
2. Penutupan
Tanggal 20 Agustus 2010 Pkl. 15.00 s.d …..
3. Tempat Pelaksanaan Pembukaan/Pelatihan:
Hotel Satya Graha Jalan Veteran Yogyakarta
4. Jumlah Peserta: 16 Orang
Terdiri dari:
• Utusan Pengurus DPD, DPC Pertuni se-DI Yogyakarta
• Utusan Lembaga
• Utusan anggota, dan Guru
D. DPD Jawa TImur
1. Pembukaan
Tanggal 22 September 2010 Pkl. 09.00 s.d 11.00 WIB
Proses/Pelaksanaan Pelatihan : Pkl. 13.00 s.d …..
2. Penutupan
Tanggal 26 September 2010 Pkl. 15.00 s.d …..
3. Tempat Pelaksanaan Pembukaan/Pelatihan:
Aula BK3S
4. Jumlah Peserta: 30 Orang
Terdiri dari:
• Utusan Pengurus DPD, DPC Pertuni se-Surabaya
• Utusan Lembaga
• Utusan anggota, Guru, dan Kader
Blog ini memuat berita-berita tentang tunanetra atau yang terkait dengan ketunanetraan dan Pertuni.
Sabtu, 31 Juli 2010
Selasa, 20 Juli 2010
Seminar Wirausaha Menuju Tunanetra Mandiri dan Sukses
Seminar Wirausaha Menuju Tunanetra Mandiri dan Sukses
Seminar diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Pusat Pertuni pada Hari Selasa 20 Juli 2010 Jam . 09.00 s.d 16.00 di Gedung Badan Penelitian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Ruang Komisi Utama Lantai 3 Jl. M.H.Thamrin Kav.8 Jakarta Pusat.
Pembicara dan narasumber
Pembicara/narasumber yang menyampaikan materinya adalah :
1. Prof Dr. Suhardi (Dosen Fakultas Ekonomi UGM Yogyakarta)
2. Dr. Adi Sasono (Ketua Dewan Penasehat Dewan Koperasi Indonesia)
3. Dr. Hartojo Wignjowijoto (Ketua Lembaga Studi Kapasitas Nasional).
4. Bapak Bob Sadino (Pengusaha sukses dan pemilik Kemchik)
Peserta
Seminar dihadiri oleh lebih dari 100 orang tunanetra dan mitra bakti dari DKI, Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Bentuk kegiatan
Seminar dibagi ke dalam 2 sesi.
Sesi pertama berbentuk panel, menampilkan tiga orang pembicara, dengan topik “Sistem perekonomian yang dihadapi bangsa Indonesia merupakan tantangan bagi para tunanetra untuk hidup mandiri dan produktif “ sedang sesi kedua dengan satu orang narasumber utama (Bapak Bob Sadino), dengan topik “ Menuju wirausaha tunanetra sukses”
Seminar diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Pusat Pertuni pada Hari Selasa 20 Juli 2010 Jam . 09.00 s.d 16.00 di Gedung Badan Penelitian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Ruang Komisi Utama Lantai 3 Jl. M.H.Thamrin Kav.8 Jakarta Pusat.
Pembicara dan narasumber
Pembicara/narasumber yang menyampaikan materinya adalah :
1. Prof Dr. Suhardi (Dosen Fakultas Ekonomi UGM Yogyakarta)
2. Dr. Adi Sasono (Ketua Dewan Penasehat Dewan Koperasi Indonesia)
3. Dr. Hartojo Wignjowijoto (Ketua Lembaga Studi Kapasitas Nasional).
4. Bapak Bob Sadino (Pengusaha sukses dan pemilik Kemchik)
Peserta
Seminar dihadiri oleh lebih dari 100 orang tunanetra dan mitra bakti dari DKI, Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Bentuk kegiatan
Seminar dibagi ke dalam 2 sesi.
Sesi pertama berbentuk panel, menampilkan tiga orang pembicara, dengan topik “Sistem perekonomian yang dihadapi bangsa Indonesia merupakan tantangan bagi para tunanetra untuk hidup mandiri dan produktif “ sedang sesi kedua dengan satu orang narasumber utama (Bapak Bob Sadino), dengan topik “ Menuju wirausaha tunanetra sukses”
Senin, 12 Juli 2010
Dari NFB Convention 2010
Dari NFB Convention 2010
Tolhas Damanik, mitra-jaringan@yahoogroups.com, Sunday, July 11, 2010 8:19 PM
Hello Rekan, berikut lanjutan dari cerita dari arena NFB Convention 2010. O, iya, saat ini aku sudah kembali lagi ke Athens setelah menghadiri convention.
Secara garis besar, 5 hari kegiatan NFB Convention berisi pemaparan tentang berbagai issue yang menarik untuk dibahas sepanjang tahun, karena memang NFB Convention diselenggarakan setiap tahun. Banyak sekali pembicara menarik yang diundang dalam Convention ini. Diantaranya perwakilan dari Department of the National Education, perwakilan dari Presiden Obama, perwakilan dari Library of Congress, Perwakilan dari pembangun software seperti Adobi, tunanetra yang mengilhami pembuatan mobil accessible, perwakilan dari Humanware yang merupakan perusahaan partner NFB dalam tehnologi literasi, perwakilan dari guru siswa tunanetra, perwakilan dari perpustakaan-perpustakaan braille dan digital book, prwakilan dari perusahaan yang menerima tunanetra untuk bekerja, department tenaga kerja, dan sebagainya. Hampir semua pembicara yang hadir mewakili institusinya adalah direktur atau orang nomor satu dari tiap institusi. Inilah yang membuat kesan, bahwa posisi tawar NFB di US memang luar biasa. Kegiatan ini juga berkesempatan diliput secara life oleh CNN. Di ruangan yang lain, terdapat berbagai pameran seperti dari produser alat-alat ketunanetraan, serta dari perusahaan yang menjadi sponsor kegiatan. Beberapa stand yang saya kunjungi adalah stand NFB National Center, NFB student Center, Humanware, Freedom Scientific, Departemen hukum (saat itu membuka pameran untuk menjaring tenaga kerja tunanetra), departemen tenaga kerja, departemen pendidikan, dan sebagainya. Sayang pameran ini nggak dibuka sepanjang hari, sehingga tidak banyak waktu untuk bertanya pada penjaga pamerannya karena waktunya sangat terbatas. Setiap hari juga dilakukan pengundian doorprice, karena hampir tiap negara bagian dan juga sponsor menyediakan doorprice. Aku sendiri beruntung mendapatkan doorprice yang disediakan oleh negara bagian colorado. Doorprice nya memang luar biasa, dari uang sebesar USD 25 sampai USD 2500, paket perjalanan wisata ke Yunani dengan kapal pesiar, Braille display, Victor Reader Streem, HD Card, dan sebagainya. Pada malam terakhir juga dibacakan nama-nama penerima beasiswa dari NFB, yang jumlahnya ada sekitar 45 siswa. Siswa penerima bea siswa memang luar biasa, mereka ada yang kuliah di tehnik computer, astronomi, matematika dan statistik, fisika, hukum, musik, tehnik industri, pendidikan, dan sebagainya, yang rata-rata untuk program master dan Ph.D.
NFB Convention tidak bertujuan untuk memilih presiden. Aku kira presiden NFB sekarang (Dr. Marc Maurar) telah menjadi presiden hampir sekitar 15 tahun. NFB berpendapat, mereka tidak memerlukan untuk terus menerus berganti presiden, karena menurut mereka, posisi presiden tidak lebih dari posisi leader, sementara semua pekerjaan dapat dikerjakan secara bersama-sama. Tiap negara bagian memang memiliki paling sedikit 2 perwakilan di kepengurusan nasional NFB. Dr. Maurar ini memang orang yang cukup karismatik, dan kupikir wajar akhirnya dia tetap memimpin NFB sekian lamanya. Setiap dia tampil berbicara, semua orang terkesima mendengarkan dia, dan dia selalu mendapatkan sorak-sorai dan tepuk tangan hadirin. Dia cukup vokal dalam menyuarakan aspirasi tunanetra, tetapi juga sering diundang ke gedung putih oleh presiden, yang berarti dia punya hubungan baik dengan pemerintah. Aku berkesempatan bertemu dengan dia di sela-sela aktifitasnya memimpin sidang.
Pada satu setengah jam pidato penutupannya, Dr. Maurar kembali memberikan garis besar dari seluruh hasil convention. Dia banyak sekali melontarkan kritik pada berbagai fihak dalam pidato penutupannya, yang sering diiringi tepuk tangan dan sorak sorai hadirin. Beberapa hal yang menjadi kritik beliau adalah tentang pentingnya memperhatikan definisi blind kembali. Beliau menyoroti riset yang sering kali didasari oleh pandangan tentang ketunanetraan dari sudut keterbatasan fungsi, atau yang beliau sebut sebagai devisit model. Beliau mendorong penelitian tentang tunanetra didasari oleh pengoptimalan potensi dan kemampuan tunanetra di berbagai bidang. Beliau juga mengkritik keras tentang pandangan mengenai low vision. Menurut beliau, low vision hendaknya diberi kesempatan untuk memilih sendiri jati dirinya. Tidak ada orang yang bisa memberikan pilihan tentang bagaimana mereka harus hidup selain mereka sendiri. Itu sebabnya, Low vision juga harus mendapatkan layanan sama seperti tunanetra lainnya, supaya mereka tetap b isa memilih yang terbaik. Mereka juga harus diajarkan braille supaya mereka punya banyak pilihan pada literasi. Istilah legally blind menurut Dr. Maurar hanyalah mengesankan seolah-olah menjadi buta total adalah sebuah bencana. Masyarakat cenderung ingin melihat bahwa kondisi low vision adalah lebih baik daripada buta total. Padahal kondisi low vision sebenarnya psichologically mungkin lebih menyulitkan. Menurut Dr. Maurar, kebutaan adalah kebutaan, apapun kondisinya, dan semua anggota NFB tetap bangga menjadi seorang yang tunanetra. Kritik yang lain adalah mengenai para guru pengajar braille, menurut beliau, para guru tidak cukup hanya sekedar mengerti braille dan mengajarkannya pada siswa tunanetra. Para guru haruslah orang yang betul-betul mengerti braille dan terlatih, sehingga dia mampu mengajarkan braille pada semua siswa tunanetra, termasuk yang tunanetra ganda. Di US, terdapat test yang dapat mengukur kemampuan para tunanetra dalam membaca braille. Test ini disarankan diikuti oleh semua tunanetra untuk mengetahui kemampuan mereka menggunakan braille, ketika mereka masuk ke sekolah. Semua siswa hendaknya sudah mampu membaca dan menulis braille dengan baik pada kelas 3 sekolah dasar. Pada bagian lainnya, Dr. Maurar memberi garis besar pada upaya advokasi NFB pada kasus-kasus diskriminatif yang terjadi pada anggotanya. Salah satu kasus yang dibahas adalah tentang beberapa mahasiswa hukum yang tidak diperkenankan menngikuti ujian lisensi pengacara menggunakan screen reader. Fihak penyelenggara hanya memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengikuti ujian dengan pembaca. Dr. Maurar tidak melihat adanya alasan jelas mengapa panitia ujian tidak memberi kesempatan pada mereka untuk mengikuti ujian dengan screen reader. Dr. Maurar mengatakan bahwa NFB akan mengerahkan pengacara dari NFB, dan akan membuat para tunanetra memenangi kasus itu. Kemajuan di bidang tehnologi, melalui ditemukannya K NFB Reader Mobil, dan akan diluncurkannya mobil aksesible membuktikan, bahwa mimpi tunanetra adalah nyata. Dr. Maurar menekankan, tiadak ada kata tidak mungkin, jika semua orang mau bekerja keras untuk mewujudkan mimpi tersebut. Pidato Dr. Maurar ini memang luar biasa, hampir tiap 5 menit hadirin bertepuk tangan dan bersorak sorai, hingga pada akhir pidatonya, hadirin bertepuktangan panjang, berdiri, memberikan yel-yel NFB, NFB, NFB, dan menyanyikan lagu mars NFB... Pidato penutupan ini memang mencerminkan betul peran NFB sebagai advokator hak-hak tunanetra dan posisi tawar kuat NFB di US. saya sedang mencoba untuk mendapatkan dokumentasi pidato dari Dr. Maurar ini, karena menurut saya cukup bagus sekali. Tahun depan NFB Convention akan diselenggarakan di Ontario Canada. Mudah-mudahan saya bisa ikut lagi..hehe... tapi ya saya juga jadi ingin ikut sidangnya PERTUNI, soalnya belum pernah ikut ..haha...
Sisi lain dari NFB Convention adalah bagaimana kami di tiap negara bagian harus mengumpulkan dana untuk keperluan perjalanan ke Convention dan akomodasi sebelum kami berangkat ke Dallas. Di Ohio, kami menyelenggarakan penggalangan dana untuk tiap peserta yang akan berangkat. Dr. JW Smith, Presiden NFB Ohio mengkoordinatori penggalangan dana melalui pergelaran Jazz band beberapa waktu yang lalu. Bayangkan, saking semangatnya si professor ini mengirimkan utusan dari Ohio, pada saat acara beliau juga masih berkesempatan menjual coklat kepada peserta convention. Saya merasa Dr. Smith ini juga adalah pemimpin yang luar biasa. Dia tidak pernah memberikan perintah, tapi langsung bekerja. Di arena convention, dia berteriak-teriak menjajakan coklatnya..hehe....dan dari penjualan coklat selama convention, dia mendapatkan dana sebesar USD 400. Kami juga akan menyelenggarakan rapat pada november tahun ini untuk regional Ohio. Beberapa NFB member sedang mendekati saya untuk bisa memimpin NFB Chapter Athens. Mereka belum tahu kalau saya sudah selesai kuliah...hehe... lucu ya kalau warga US tidak menjadi pemimpin di wilayahnya sendiri, sama kalau PERTUNI presidennya diserahkan pada orang dari negara lain..haha...:)
Mudah-mudahan cerita ini bermanfaat bagi kita semua. Mudah-mudahan pertuni juga bisa menyelenggarakan rapat besar yang bisa dihadiri seluruh tunanetra se Indonesia..haha.... Kita tetap punya semangat sama seperti semangat peserta NFB COnvention, karena sebenarnya area kepedulian kita juga sama...
Salam
Tolhas Damanik
Tolhas Damanik, mitra-jaringan@yahoogroups.com, Sunday, July 11, 2010 8:19 PM
Hello Rekan, berikut lanjutan dari cerita dari arena NFB Convention 2010. O, iya, saat ini aku sudah kembali lagi ke Athens setelah menghadiri convention.
Secara garis besar, 5 hari kegiatan NFB Convention berisi pemaparan tentang berbagai issue yang menarik untuk dibahas sepanjang tahun, karena memang NFB Convention diselenggarakan setiap tahun. Banyak sekali pembicara menarik yang diundang dalam Convention ini. Diantaranya perwakilan dari Department of the National Education, perwakilan dari Presiden Obama, perwakilan dari Library of Congress, Perwakilan dari pembangun software seperti Adobi, tunanetra yang mengilhami pembuatan mobil accessible, perwakilan dari Humanware yang merupakan perusahaan partner NFB dalam tehnologi literasi, perwakilan dari guru siswa tunanetra, perwakilan dari perpustakaan-perpustakaan braille dan digital book, prwakilan dari perusahaan yang menerima tunanetra untuk bekerja, department tenaga kerja, dan sebagainya. Hampir semua pembicara yang hadir mewakili institusinya adalah direktur atau orang nomor satu dari tiap institusi. Inilah yang membuat kesan, bahwa posisi tawar NFB di US memang luar biasa. Kegiatan ini juga berkesempatan diliput secara life oleh CNN. Di ruangan yang lain, terdapat berbagai pameran seperti dari produser alat-alat ketunanetraan, serta dari perusahaan yang menjadi sponsor kegiatan. Beberapa stand yang saya kunjungi adalah stand NFB National Center, NFB student Center, Humanware, Freedom Scientific, Departemen hukum (saat itu membuka pameran untuk menjaring tenaga kerja tunanetra), departemen tenaga kerja, departemen pendidikan, dan sebagainya. Sayang pameran ini nggak dibuka sepanjang hari, sehingga tidak banyak waktu untuk bertanya pada penjaga pamerannya karena waktunya sangat terbatas. Setiap hari juga dilakukan pengundian doorprice, karena hampir tiap negara bagian dan juga sponsor menyediakan doorprice. Aku sendiri beruntung mendapatkan doorprice yang disediakan oleh negara bagian colorado. Doorprice nya memang luar biasa, dari uang sebesar USD 25 sampai USD 2500, paket perjalanan wisata ke Yunani dengan kapal pesiar, Braille display, Victor Reader Streem, HD Card, dan sebagainya. Pada malam terakhir juga dibacakan nama-nama penerima beasiswa dari NFB, yang jumlahnya ada sekitar 45 siswa. Siswa penerima bea siswa memang luar biasa, mereka ada yang kuliah di tehnik computer, astronomi, matematika dan statistik, fisika, hukum, musik, tehnik industri, pendidikan, dan sebagainya, yang rata-rata untuk program master dan Ph.D.
NFB Convention tidak bertujuan untuk memilih presiden. Aku kira presiden NFB sekarang (Dr. Marc Maurar) telah menjadi presiden hampir sekitar 15 tahun. NFB berpendapat, mereka tidak memerlukan untuk terus menerus berganti presiden, karena menurut mereka, posisi presiden tidak lebih dari posisi leader, sementara semua pekerjaan dapat dikerjakan secara bersama-sama. Tiap negara bagian memang memiliki paling sedikit 2 perwakilan di kepengurusan nasional NFB. Dr. Maurar ini memang orang yang cukup karismatik, dan kupikir wajar akhirnya dia tetap memimpin NFB sekian lamanya. Setiap dia tampil berbicara, semua orang terkesima mendengarkan dia, dan dia selalu mendapatkan sorak-sorai dan tepuk tangan hadirin. Dia cukup vokal dalam menyuarakan aspirasi tunanetra, tetapi juga sering diundang ke gedung putih oleh presiden, yang berarti dia punya hubungan baik dengan pemerintah. Aku berkesempatan bertemu dengan dia di sela-sela aktifitasnya memimpin sidang.
Pada satu setengah jam pidato penutupannya, Dr. Maurar kembali memberikan garis besar dari seluruh hasil convention. Dia banyak sekali melontarkan kritik pada berbagai fihak dalam pidato penutupannya, yang sering diiringi tepuk tangan dan sorak sorai hadirin. Beberapa hal yang menjadi kritik beliau adalah tentang pentingnya memperhatikan definisi blind kembali. Beliau menyoroti riset yang sering kali didasari oleh pandangan tentang ketunanetraan dari sudut keterbatasan fungsi, atau yang beliau sebut sebagai devisit model. Beliau mendorong penelitian tentang tunanetra didasari oleh pengoptimalan potensi dan kemampuan tunanetra di berbagai bidang. Beliau juga mengkritik keras tentang pandangan mengenai low vision. Menurut beliau, low vision hendaknya diberi kesempatan untuk memilih sendiri jati dirinya. Tidak ada orang yang bisa memberikan pilihan tentang bagaimana mereka harus hidup selain mereka sendiri. Itu sebabnya, Low vision juga harus mendapatkan layanan sama seperti tunanetra lainnya, supaya mereka tetap b isa memilih yang terbaik. Mereka juga harus diajarkan braille supaya mereka punya banyak pilihan pada literasi. Istilah legally blind menurut Dr. Maurar hanyalah mengesankan seolah-olah menjadi buta total adalah sebuah bencana. Masyarakat cenderung ingin melihat bahwa kondisi low vision adalah lebih baik daripada buta total. Padahal kondisi low vision sebenarnya psichologically mungkin lebih menyulitkan. Menurut Dr. Maurar, kebutaan adalah kebutaan, apapun kondisinya, dan semua anggota NFB tetap bangga menjadi seorang yang tunanetra. Kritik yang lain adalah mengenai para guru pengajar braille, menurut beliau, para guru tidak cukup hanya sekedar mengerti braille dan mengajarkannya pada siswa tunanetra. Para guru haruslah orang yang betul-betul mengerti braille dan terlatih, sehingga dia mampu mengajarkan braille pada semua siswa tunanetra, termasuk yang tunanetra ganda. Di US, terdapat test yang dapat mengukur kemampuan para tunanetra dalam membaca braille. Test ini disarankan diikuti oleh semua tunanetra untuk mengetahui kemampuan mereka menggunakan braille, ketika mereka masuk ke sekolah. Semua siswa hendaknya sudah mampu membaca dan menulis braille dengan baik pada kelas 3 sekolah dasar. Pada bagian lainnya, Dr. Maurar memberi garis besar pada upaya advokasi NFB pada kasus-kasus diskriminatif yang terjadi pada anggotanya. Salah satu kasus yang dibahas adalah tentang beberapa mahasiswa hukum yang tidak diperkenankan menngikuti ujian lisensi pengacara menggunakan screen reader. Fihak penyelenggara hanya memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengikuti ujian dengan pembaca. Dr. Maurar tidak melihat adanya alasan jelas mengapa panitia ujian tidak memberi kesempatan pada mereka untuk mengikuti ujian dengan screen reader. Dr. Maurar mengatakan bahwa NFB akan mengerahkan pengacara dari NFB, dan akan membuat para tunanetra memenangi kasus itu. Kemajuan di bidang tehnologi, melalui ditemukannya K NFB Reader Mobil, dan akan diluncurkannya mobil aksesible membuktikan, bahwa mimpi tunanetra adalah nyata. Dr. Maurar menekankan, tiadak ada kata tidak mungkin, jika semua orang mau bekerja keras untuk mewujudkan mimpi tersebut. Pidato Dr. Maurar ini memang luar biasa, hampir tiap 5 menit hadirin bertepuk tangan dan bersorak sorai, hingga pada akhir pidatonya, hadirin bertepuktangan panjang, berdiri, memberikan yel-yel NFB, NFB, NFB, dan menyanyikan lagu mars NFB... Pidato penutupan ini memang mencerminkan betul peran NFB sebagai advokator hak-hak tunanetra dan posisi tawar kuat NFB di US. saya sedang mencoba untuk mendapatkan dokumentasi pidato dari Dr. Maurar ini, karena menurut saya cukup bagus sekali. Tahun depan NFB Convention akan diselenggarakan di Ontario Canada. Mudah-mudahan saya bisa ikut lagi..hehe... tapi ya saya juga jadi ingin ikut sidangnya PERTUNI, soalnya belum pernah ikut ..haha...
Sisi lain dari NFB Convention adalah bagaimana kami di tiap negara bagian harus mengumpulkan dana untuk keperluan perjalanan ke Convention dan akomodasi sebelum kami berangkat ke Dallas. Di Ohio, kami menyelenggarakan penggalangan dana untuk tiap peserta yang akan berangkat. Dr. JW Smith, Presiden NFB Ohio mengkoordinatori penggalangan dana melalui pergelaran Jazz band beberapa waktu yang lalu. Bayangkan, saking semangatnya si professor ini mengirimkan utusan dari Ohio, pada saat acara beliau juga masih berkesempatan menjual coklat kepada peserta convention. Saya merasa Dr. Smith ini juga adalah pemimpin yang luar biasa. Dia tidak pernah memberikan perintah, tapi langsung bekerja. Di arena convention, dia berteriak-teriak menjajakan coklatnya..hehe....dan dari penjualan coklat selama convention, dia mendapatkan dana sebesar USD 400. Kami juga akan menyelenggarakan rapat pada november tahun ini untuk regional Ohio. Beberapa NFB member sedang mendekati saya untuk bisa memimpin NFB Chapter Athens. Mereka belum tahu kalau saya sudah selesai kuliah...hehe... lucu ya kalau warga US tidak menjadi pemimpin di wilayahnya sendiri, sama kalau PERTUNI presidennya diserahkan pada orang dari negara lain..haha...:)
Mudah-mudahan cerita ini bermanfaat bagi kita semua. Mudah-mudahan pertuni juga bisa menyelenggarakan rapat besar yang bisa dihadiri seluruh tunanetra se Indonesia..haha.... Kita tetap punya semangat sama seperti semangat peserta NFB COnvention, karena sebenarnya area kepedulian kita juga sama...
Salam
Tolhas Damanik
Selasa, 06 Juli 2010
Hasil Pertemuan dengan KOMNAS HAM tentang Sinetron 3 Mas Ketir
Hasil Pertemuan dengan KOMNAS HAM tentang Sinetron 3 Mas Ketir
Dikutip dari tulisan Rachmita MH, Mitra-Jaringan, Tuesday, July 06, 2010 1:16 PM
Pihak yang hadir :
Dari DPO :
PPCI _ Sdr Heppy
Gerkatin _ Sdr Afrizal
Pertuni _ Mahreta Maha
Sehjira _ Ibu Mitha, Revita dan Frenia (GEMPITA sebagai fasilitator/interpreter)
Portupencanak _ ibu-ibu perwakilan dari organisasi orang tua penyandang cacat ganda
Dari Global TV:
Ibu Betty dan Riza (Corporate Secretary)
Dari Multivision (Rumah Produksi 3 Mas Ketir)
Anjasmara (produsen pelaksana)
Maritia shamas (tim kreatif)
Dari Komnas Ham (Mediator):
Saharuddin Daming(Komisioner Komnas Ham)
Andri Wahyu (staf Mediasi)
Ibu Hidayah (Pemantauan)
Hasil :
Telah terjadi kesepakatan antara pihak-pihak untuk menyelesaikan dengan damai perselisihan yang terjadi terkait dengan penayangan sinetron 3 Mas Ketir sebagai berikut :
1. Sinetron 3 Mas Ketir telah stop tayang semenjak 8 Juni 2010.
2. Sebenarnya niat dari Multivision dalam pembuatan tayangan yang terkait dengan disabilitas adalah dengan niat baik untuk mengedukasi masyarakat, namun mereka menyadari kesalahan mereka dengan tidak melibatkan PENDI untuk berdiskusi terlebih dahulu dan untuk itu mereka meminta maaf karena telah menyinggung beberapa pihak.
3. Untuk kedepannya pihak Multivision akan berdiskusi terlebih dahulu apabila ingin memproduksi tayangan yang serupa.
4. Pihak Global TV juga telah meminta maaf, mereka sebenarnya termasuk televisi yang mendukung gerakan disabilitas ( TV yg turut memuat profil Bpk Saharudin Daming (Tuna Netra) sebagai Komisioner KOMNAS HAM)
5. DPO-DPO yang terkait telah menerima permohonan maaf dari Global TV dan Multivision untuk kemudian tidak akan memperkarakan hal ini ke pengadilan.
Sekian, mudah-mudahan menjadi pembelajaran untuk kita semua untuk lebih sensitif terhadap isu-isu yang terkait dengan kaum marjinal dalam kehidupan kita sehari-hari maupun di dalam pekerjaan kita.
Cheerz...^_^
Dikutip dari tulisan Rachmita MH, Mitra-Jaringan, Tuesday, July 06, 2010 1:16 PM
Pihak yang hadir :
Dari DPO :
PPCI _ Sdr Heppy
Gerkatin _ Sdr Afrizal
Pertuni _ Mahreta Maha
Sehjira _ Ibu Mitha, Revita dan Frenia (GEMPITA sebagai fasilitator/interpreter)
Portupencanak _ ibu-ibu perwakilan dari organisasi orang tua penyandang cacat ganda
Dari Global TV:
Ibu Betty dan Riza (Corporate Secretary)
Dari Multivision (Rumah Produksi 3 Mas Ketir)
Anjasmara (produsen pelaksana)
Maritia shamas (tim kreatif)
Dari Komnas Ham (Mediator):
Saharuddin Daming(Komisioner Komnas Ham)
Andri Wahyu (staf Mediasi)
Ibu Hidayah (Pemantauan)
Hasil :
Telah terjadi kesepakatan antara pihak-pihak untuk menyelesaikan dengan damai perselisihan yang terjadi terkait dengan penayangan sinetron 3 Mas Ketir sebagai berikut :
1. Sinetron 3 Mas Ketir telah stop tayang semenjak 8 Juni 2010.
2. Sebenarnya niat dari Multivision dalam pembuatan tayangan yang terkait dengan disabilitas adalah dengan niat baik untuk mengedukasi masyarakat, namun mereka menyadari kesalahan mereka dengan tidak melibatkan PENDI untuk berdiskusi terlebih dahulu dan untuk itu mereka meminta maaf karena telah menyinggung beberapa pihak.
3. Untuk kedepannya pihak Multivision akan berdiskusi terlebih dahulu apabila ingin memproduksi tayangan yang serupa.
4. Pihak Global TV juga telah meminta maaf, mereka sebenarnya termasuk televisi yang mendukung gerakan disabilitas ( TV yg turut memuat profil Bpk Saharudin Daming (Tuna Netra) sebagai Komisioner KOMNAS HAM)
5. DPO-DPO yang terkait telah menerima permohonan maaf dari Global TV dan Multivision untuk kemudian tidak akan memperkarakan hal ini ke pengadilan.
Sekian, mudah-mudahan menjadi pembelajaran untuk kita semua untuk lebih sensitif terhadap isu-isu yang terkait dengan kaum marjinal dalam kehidupan kita sehari-hari maupun di dalam pekerjaan kita.
Cheerz...^_^
Senin, 28 Juni 2010
Workshop Bimbingan Karir Pertuni Jawa Tengah
Workshop Bimbingan Karir Pertuni Jawa Tengah
mitra-jaringan - Monday, June 28, 2010 12:18 PM
Alhamdulillah, DPD PERTUNI Jateng yang didukung oleh DPP PERTUNI telah berhasil menyelesaikan workshop bimbingan karir sejak tanggal 25 -27 Juni 2010.
Acara yang diadakan di aula BLPT Semarang ini diikuti oleh 31 orang tunanetra usia sekolah menengah. Tujuan acara ini adalah membuka wawasan tunanetra usia pelajar untuk sekolah di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ada pun fasilitator dalam acara ini adalah mbak Agung yang selain sebagai psykolog, juga tunanetra sehingga lebih mendekatkan pada alam pikiran tunanetra.Selain fasilitator utama yang juga seorang tunanetra, tokoh yang diundang untuk menceritakan kisah sukses perjalanan hidupnya pun tunanetra, yaitu mbak Aria dan pak Yanto. Mbak Aria sebagai seorang tunanetra asal Semarang yang sekarang menjadi staff Public Relation Yayasan Mitra Netra di Jakarta memunyai pengalaman hubungan internasional dalam kaitannya dengan Yayasan Mitra Netra sebagai tempat ia bekerja dan sebagai Ketua 3 DPP PERTUNI . Pak Yanto yang juga tunanetra, mempunyai kantor advokat di Bandung, Jakarta, dan Pulau Batam. Pak Yanto juga menjadi General Manager di 4 perusahaan di Pulau Batam.
Pikiran tunanetra yang pada umumnya hanya menjadi pemijat mulai terkuak dengan kehadiran para tokoh tunanetra itu. Hal ini terbukti dengan pengakuan Ayu, salah seorang tunanetra asal Kudus yang berkata kepada istri saya, bahwa ia ingin sekolah yang tinggi agar lebih cerah hidupnya.
Memang tidak mudah dalam usaha membuka pola pikir tunanetra yang selama ini telah kokoh tertanam dalam diri tunanetra dan masyarakat. Namun marilah kita berjuang bersama demi kemajuan tunanetra dan bangsa Indonesia kita.
Mr. Suryandaru, S.H.
ndarusurya@yahoo.co.id & ndarusurya@gmail.com
http://suryandar.blogspot.com
Mobile :+6281325885858
mitra-jaringan - Monday, June 28, 2010 12:18 PM
Alhamdulillah, DPD PERTUNI Jateng yang didukung oleh DPP PERTUNI telah berhasil menyelesaikan workshop bimbingan karir sejak tanggal 25 -27 Juni 2010.
Acara yang diadakan di aula BLPT Semarang ini diikuti oleh 31 orang tunanetra usia sekolah menengah. Tujuan acara ini adalah membuka wawasan tunanetra usia pelajar untuk sekolah di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ada pun fasilitator dalam acara ini adalah mbak Agung yang selain sebagai psykolog, juga tunanetra sehingga lebih mendekatkan pada alam pikiran tunanetra.Selain fasilitator utama yang juga seorang tunanetra, tokoh yang diundang untuk menceritakan kisah sukses perjalanan hidupnya pun tunanetra, yaitu mbak Aria dan pak Yanto. Mbak Aria sebagai seorang tunanetra asal Semarang yang sekarang menjadi staff Public Relation Yayasan Mitra Netra di Jakarta memunyai pengalaman hubungan internasional dalam kaitannya dengan Yayasan Mitra Netra sebagai tempat ia bekerja dan sebagai Ketua 3 DPP PERTUNI . Pak Yanto yang juga tunanetra, mempunyai kantor advokat di Bandung, Jakarta, dan Pulau Batam. Pak Yanto juga menjadi General Manager di 4 perusahaan di Pulau Batam.
Pikiran tunanetra yang pada umumnya hanya menjadi pemijat mulai terkuak dengan kehadiran para tokoh tunanetra itu. Hal ini terbukti dengan pengakuan Ayu, salah seorang tunanetra asal Kudus yang berkata kepada istri saya, bahwa ia ingin sekolah yang tinggi agar lebih cerah hidupnya.
Memang tidak mudah dalam usaha membuka pola pikir tunanetra yang selama ini telah kokoh tertanam dalam diri tunanetra dan masyarakat. Namun marilah kita berjuang bersama demi kemajuan tunanetra dan bangsa Indonesia kita.
Mr. Suryandaru, S.H.
ndarusurya@yahoo.co.id & ndarusurya@gmail.com
http://suryandar.blogspot.com
Mobile :+6281325885858
Selasa, 15 Juni 2010
Membangun Peradaban dengan Menghargai Perbedaan
Membangun Peradaban dengan Menghargai Perbedaan
Aria Indrawati - mitra-jaringan@yahoogroups.com, Tuesday, June 15, 2010 11:33 AM
Melalui kegiatan berkesenian,
UIN Sunan Kalijaga Mengalirkan Idiologi Inkllusi Di Jogja.
“Inklusi Dalam Seni Dan Budaya”, begitu tema yang dipilih, saat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jogjakarta mensyukuri dan merayakan tiga tahun berdirinya “Pusat Studi dan Layanan Difabel PSLD”. Berbagai jenis kesenian ditampilkan. Karawitan, pantomim, pembacaan puisi dan cerpen, tari serta band. Para pelakunya adalah seniman-seniman yang menyandang disabilitas bersama para sahabat yang bukan penyandang disabilitas. Begitulah cara universitas ini menggelorakan dan mengalirkan idiologi inklusi ke seluruh penjuru kampus dan sekitarnya. Acara diselenggarakan di halaman kampus timur, rabu 10 Juni. Pada kesempatan ini, UIN Jogja yang diwakili oleh rektornya, Prof Dr. Amin Abdullah, juga menandatangani perjanjian kerja sama dengan Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) yang diwakili oleh Ketua Umumnya Dr. Didi Tarsidi , untuk mempercepat pengembangan PSLD di universitas tersebut.
UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta adalah universitas pertama di Indonesia, yang dengan kesadaran dan inisyatifnya sendiri, merintis pusat layanan untuk mahasiswa penyandang disabilitas. Ini dapat terjadi karena universitas ini memiliki rector dan beberapa dosen-dosen muda, yang sekembali mereka dari belajar di luar negeri berupaya menumbuhkan semangat “inklusi” di almamater mereka. Telah banyak pejabat dan orang-orang terpelajar di negeri ini belajar dan bepergian ke luar negeri. Namun, tak banyak yang benar-benar mau mengaplikasikan apa yang mereka pelajari dan lihat dari manca Negara di Negara sendiri.
Apa yang mereka pelajari dan lihat di sana adalah bahwa, universitas menyediakan layanan khusus bagi mahasiswa yang berkebutuhan khusus, yaitu mereka yang menyandang disabilitas, apa pun jenisnya.
Pertuni mencatat sudah sejak tahun enampuluhan tunanetra di Indonesia mulai, dengan usaha keras mereka sendiri, menempuh studi di perguruan tinggi. Sebagian berhasil menyelesaikannya, dan sebagian lain tidak, berhenti di tengah jalan karena tak kuasa menembus tebalnya hambatan, yaitu belajar tanpa dukungan system layanan khusus; Bagi mereka yang berhasil, itu karena dukungan keluarga yang sangat baik atau, karena memiliki daya juang yang luar biasa, sehingga dengan kreativitas yang dimiliki, mereka berhasil menembus hambatan.
Idiologi inklusi dalam pendidikan yang memberikan hak dan kesempatan yang sama bagi para penyandang disabilitas untuk menempuh studi di sekolah umum dan perguruan tinggi masuk ke Indonesia pada tahun 1998
Di tingkat pendidikan dasar dan menengah, dorongan untuk menyediakan sarana dan layanan khusus bagi siswa penyandang disabilitas agar mereka dapat bersekolah di sekolah umum telah makin meningkat. Hal ini terjadi karena peran aktif organisasi non pemerintah baik dalam maupun luar negeri, yang secara bertubi-tubi memberikan dorongan, desakan serta bantuan baik dana maupun tenaga ahli agar Indonesia mulai membangun system pendidikan inklusi. Hasilnya pun mulai dirasakan, meski baru sangat sedikit.
Namun, Pertuni merasakan upaya peningkatan kualitas hidup tunanetra melalui pendidikan ini belum memberikan dampak yang berarti. Di samping karena jumlahnya pun belum ada peningkatan secara signifikan, juga karena gerakan mendorong peningkatan kualitas pendidikan ini baru di tataran pendidikan dasar dan menengah.
Olehkarenanya, melalui kerja sama dengan International Council of Education for People with Visual Impairment (ICEVI) dan The Nippon Foundation (TNF,), sejak tahun 2006 Pertuni mengkoordinatori gerakan kampanye kesadaran bertajuk “higher education for students with visual impairment”.
Setelah sebelumnya bekerja sama dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), kali ini, organisasi kemasyarakatan tunanetra di Indonesia ini menjalin kerja sama dengan UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.
Yang membedakan UIN Jogjakarta dengan ketiga universitas lainnya yang telah bekerja sama dengan Pertuni adalah, jika ketiga universitas tersebut baru memulai rintisan pusat layanan untuk mahasiswa tunanetra setelah mendapat dorongan dan stimulasi dari Pertuni, sedangkan UIN Jogjakarta telah memulainya atas inisyatif sendiri. Bersama Pertuni, setelah mengadakan pagelaran seni tersebut, PSLD UIN Sunan kalijaga akan menyusun panduan, bagaimana layanan di perguruan tinggi seharusnya mengakomodasikan kebutuhan khusus mahasiswa penyandang disabilitas melalui penyelenggaraan pusat layanan untuk mereka. Buku panduan ini diharapkan dapat dijadikan referensi bagi perguruan tinggi lain, baik negeri maupun swasta, agar entitaas pendidikan tinggi ini “lebih ramah” pada para penyandang disabilitas, dan memungkinkan mereka menjadi bagian dari proses belajar mengajar di sana.
Setelah mulai dengan pengembangan konsep, menghimpun masukan dari stake holder terkait serta menyiapkan alat-alat yang minimal dibutuhkan -- proses ini berlangsung selama kurang lebih dua tahun sejak tahun 2005, akhirnya, pada 2 Mei 2007, bertepatan dengan peringatan hari Pendidikan Nasional Hardiknas, UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta secara resmi melahirkan Pusat Studi dan Layanan Difabel (mahasiswa dengan disabilitas) – PSLD.
Kini PSLD telah berumur tiga tahun. Ia terus bergerak, mengalirkan semangat dan idiologi inklusi ke seluruh penjuru universitas; dewan senat perguruan tinggi, dosen, mahasiswa, staf administrasi, petugas keamanan, perpustakan serta masjid kampus. Berawal dari penyediaan alat-alat teknologi adaptif guna membantu tunanetra mengakses referensi dan informasi, Perlahan tapi pasti, semangat inklusi ini terus mengalir ke sudut kampus, hingga akhirnya ia menyatu dengan gerak, langkah, tarikan serta hembusan nafas, pikiran dan kata-kata.
Lahirnya idiologi inklusi, yang mempersepsi penyandang disabilitas sebagai bagian dari perbedaan, setara dengan perbedaan bangsa, ras, agama, suku, bahasa, serta gender, adalah tahapan penting dari perkembangan peradaban manusia. Dengan idiologi ini, penyandang disabilitas diakui keberadaanya, dihargai, dilindiungi serta dipenuhi segala kebutuhan khususnya; tak sebagaimana sebelumnya, mereka dipisahkan dari masyarakat, ada tapi dianggap tak ada, diabaikan dan distigmakan sebagai mahluk-mahluk yang tak berdaya.
Pertanyaan kita semua, berapa banyak universitas di negeri ini yang seperti UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta? Setelah berlonba-lomba menjadikan kampus mereka “berstandar internasional” yang antara lain ditandai dengan makin mahalnya biaya pendidikan tinggi, pernahkah mereka berpikir bahwa universitas yang berstandar internasional itu harus menyediakan fasilitas khusus bagi mahasiswa penyandang disabilitas?
Dengan mengaplikasikan idiologi inklusi di kampusnya, UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta telah menyatakan dirinya sebagai lembaga pendidikan, yang melahirkan generasi muda yang mengerti bagaimana menghargai perbedaan.
Dapatlah dimengerti jika didalilkan bahwa, tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa antara lain dapat diukur dengan “bagaimana masyarakat dan bangsa tersebut memperlakukan para penyandang disabilitas”,; diperlakukan secara adil atau diabaikan, atau bahkan didiskriminasikan?
Untuk keterangan lebih lanjut, silakan hubungi:
Pusat Studi dan Layanan Difabel PSLD UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta:
1. Ibu Andayani: 085228626333
2. Bapak Asep: 08159292272
Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni):
Aria Indrawati: 081511478478
Aria Indrawati - mitra-jaringan@yahoogroups.com, Tuesday, June 15, 2010 11:33 AM
Melalui kegiatan berkesenian,
UIN Sunan Kalijaga Mengalirkan Idiologi Inkllusi Di Jogja.
“Inklusi Dalam Seni Dan Budaya”, begitu tema yang dipilih, saat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jogjakarta mensyukuri dan merayakan tiga tahun berdirinya “Pusat Studi dan Layanan Difabel PSLD”. Berbagai jenis kesenian ditampilkan. Karawitan, pantomim, pembacaan puisi dan cerpen, tari serta band. Para pelakunya adalah seniman-seniman yang menyandang disabilitas bersama para sahabat yang bukan penyandang disabilitas. Begitulah cara universitas ini menggelorakan dan mengalirkan idiologi inklusi ke seluruh penjuru kampus dan sekitarnya. Acara diselenggarakan di halaman kampus timur, rabu 10 Juni. Pada kesempatan ini, UIN Jogja yang diwakili oleh rektornya, Prof Dr. Amin Abdullah, juga menandatangani perjanjian kerja sama dengan Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) yang diwakili oleh Ketua Umumnya Dr. Didi Tarsidi , untuk mempercepat pengembangan PSLD di universitas tersebut.
UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta adalah universitas pertama di Indonesia, yang dengan kesadaran dan inisyatifnya sendiri, merintis pusat layanan untuk mahasiswa penyandang disabilitas. Ini dapat terjadi karena universitas ini memiliki rector dan beberapa dosen-dosen muda, yang sekembali mereka dari belajar di luar negeri berupaya menumbuhkan semangat “inklusi” di almamater mereka. Telah banyak pejabat dan orang-orang terpelajar di negeri ini belajar dan bepergian ke luar negeri. Namun, tak banyak yang benar-benar mau mengaplikasikan apa yang mereka pelajari dan lihat dari manca Negara di Negara sendiri.
Apa yang mereka pelajari dan lihat di sana adalah bahwa, universitas menyediakan layanan khusus bagi mahasiswa yang berkebutuhan khusus, yaitu mereka yang menyandang disabilitas, apa pun jenisnya.
Pertuni mencatat sudah sejak tahun enampuluhan tunanetra di Indonesia mulai, dengan usaha keras mereka sendiri, menempuh studi di perguruan tinggi. Sebagian berhasil menyelesaikannya, dan sebagian lain tidak, berhenti di tengah jalan karena tak kuasa menembus tebalnya hambatan, yaitu belajar tanpa dukungan system layanan khusus; Bagi mereka yang berhasil, itu karena dukungan keluarga yang sangat baik atau, karena memiliki daya juang yang luar biasa, sehingga dengan kreativitas yang dimiliki, mereka berhasil menembus hambatan.
Idiologi inklusi dalam pendidikan yang memberikan hak dan kesempatan yang sama bagi para penyandang disabilitas untuk menempuh studi di sekolah umum dan perguruan tinggi masuk ke Indonesia pada tahun 1998
Di tingkat pendidikan dasar dan menengah, dorongan untuk menyediakan sarana dan layanan khusus bagi siswa penyandang disabilitas agar mereka dapat bersekolah di sekolah umum telah makin meningkat. Hal ini terjadi karena peran aktif organisasi non pemerintah baik dalam maupun luar negeri, yang secara bertubi-tubi memberikan dorongan, desakan serta bantuan baik dana maupun tenaga ahli agar Indonesia mulai membangun system pendidikan inklusi. Hasilnya pun mulai dirasakan, meski baru sangat sedikit.
Namun, Pertuni merasakan upaya peningkatan kualitas hidup tunanetra melalui pendidikan ini belum memberikan dampak yang berarti. Di samping karena jumlahnya pun belum ada peningkatan secara signifikan, juga karena gerakan mendorong peningkatan kualitas pendidikan ini baru di tataran pendidikan dasar dan menengah.
Olehkarenanya, melalui kerja sama dengan International Council of Education for People with Visual Impairment (ICEVI) dan The Nippon Foundation (TNF,), sejak tahun 2006 Pertuni mengkoordinatori gerakan kampanye kesadaran bertajuk “higher education for students with visual impairment”.
Setelah sebelumnya bekerja sama dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), kali ini, organisasi kemasyarakatan tunanetra di Indonesia ini menjalin kerja sama dengan UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.
Yang membedakan UIN Jogjakarta dengan ketiga universitas lainnya yang telah bekerja sama dengan Pertuni adalah, jika ketiga universitas tersebut baru memulai rintisan pusat layanan untuk mahasiswa tunanetra setelah mendapat dorongan dan stimulasi dari Pertuni, sedangkan UIN Jogjakarta telah memulainya atas inisyatif sendiri. Bersama Pertuni, setelah mengadakan pagelaran seni tersebut, PSLD UIN Sunan kalijaga akan menyusun panduan, bagaimana layanan di perguruan tinggi seharusnya mengakomodasikan kebutuhan khusus mahasiswa penyandang disabilitas melalui penyelenggaraan pusat layanan untuk mereka. Buku panduan ini diharapkan dapat dijadikan referensi bagi perguruan tinggi lain, baik negeri maupun swasta, agar entitaas pendidikan tinggi ini “lebih ramah” pada para penyandang disabilitas, dan memungkinkan mereka menjadi bagian dari proses belajar mengajar di sana.
Setelah mulai dengan pengembangan konsep, menghimpun masukan dari stake holder terkait serta menyiapkan alat-alat yang minimal dibutuhkan -- proses ini berlangsung selama kurang lebih dua tahun sejak tahun 2005, akhirnya, pada 2 Mei 2007, bertepatan dengan peringatan hari Pendidikan Nasional Hardiknas, UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta secara resmi melahirkan Pusat Studi dan Layanan Difabel (mahasiswa dengan disabilitas) – PSLD.
Kini PSLD telah berumur tiga tahun. Ia terus bergerak, mengalirkan semangat dan idiologi inklusi ke seluruh penjuru universitas; dewan senat perguruan tinggi, dosen, mahasiswa, staf administrasi, petugas keamanan, perpustakan serta masjid kampus. Berawal dari penyediaan alat-alat teknologi adaptif guna membantu tunanetra mengakses referensi dan informasi, Perlahan tapi pasti, semangat inklusi ini terus mengalir ke sudut kampus, hingga akhirnya ia menyatu dengan gerak, langkah, tarikan serta hembusan nafas, pikiran dan kata-kata.
Lahirnya idiologi inklusi, yang mempersepsi penyandang disabilitas sebagai bagian dari perbedaan, setara dengan perbedaan bangsa, ras, agama, suku, bahasa, serta gender, adalah tahapan penting dari perkembangan peradaban manusia. Dengan idiologi ini, penyandang disabilitas diakui keberadaanya, dihargai, dilindiungi serta dipenuhi segala kebutuhan khususnya; tak sebagaimana sebelumnya, mereka dipisahkan dari masyarakat, ada tapi dianggap tak ada, diabaikan dan distigmakan sebagai mahluk-mahluk yang tak berdaya.
Pertanyaan kita semua, berapa banyak universitas di negeri ini yang seperti UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta? Setelah berlonba-lomba menjadikan kampus mereka “berstandar internasional” yang antara lain ditandai dengan makin mahalnya biaya pendidikan tinggi, pernahkah mereka berpikir bahwa universitas yang berstandar internasional itu harus menyediakan fasilitas khusus bagi mahasiswa penyandang disabilitas?
Dengan mengaplikasikan idiologi inklusi di kampusnya, UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta telah menyatakan dirinya sebagai lembaga pendidikan, yang melahirkan generasi muda yang mengerti bagaimana menghargai perbedaan.
Dapatlah dimengerti jika didalilkan bahwa, tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa antara lain dapat diukur dengan “bagaimana masyarakat dan bangsa tersebut memperlakukan para penyandang disabilitas”,; diperlakukan secara adil atau diabaikan, atau bahkan didiskriminasikan?
Untuk keterangan lebih lanjut, silakan hubungi:
Pusat Studi dan Layanan Difabel PSLD UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta:
1. Ibu Andayani: 085228626333
2. Bapak Asep: 08159292272
Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni):
Aria Indrawati: 081511478478
Senin, 14 Juni 2010
Musda V Pertuni Daerah Bali 13-14 Juni 2010
Musyawarah Daerah ke-5 Pertuni Daerah Bali diselenggarakan di Denpasar pada tanggal 13-14 Juni 2010. Untuk masa bakti 2010-2015, I Gede Widiasa terpilih sebagai Ketua Dewan Pengurus (DPD) Pertuni Daerah Bali, dan Komang Apel Laksana Putra terpilih sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Daerah (Deperda).
Langganan:
Postingan (Atom)