Rabu, 20 Mei 2009

The Dream Stick: Tongkat Pintar untuk Tunanetra - Karya Yossi dan Aqsa

Medali Para Ilmuwan Belia
Pelajar Indonesia merebut perak pada olimpiade sains di Turki. Di Bangkok, delapan pelajar Indonesia sukses membawa delapan medali.
GAGAL di negeri sendiri, tapi menuai prestasi mengkilap di negeri orang. Inilah yang dialami pasangan kreator belia asal Kota Lumpia, Yossi Amiko Subagia dan Aqsa Aditya Gunadarma. Kedua siswa SMA Semesta Semarang itu tak berhasil menyabet medali pada Indonesian Science Project Olympiad yang digelar di Jakarta pertengahan Maret lalu.

”Kami hanya memperoleh penghargaan,” kata Yossi tentang ajang seleksi inovasi siswa yang akan dilombakan di olimpiade Asia dan dunia itu.

Sebulan berselang, karya yang hanya memperoleh penghargaan itu justru membuat keduanya menerima kalungan medali perak di podium kehormatan ajang Dreamline Project Olympiad di Ankara, Turki. The dream stick alias tongkat pintar untuk penyandang tunanetra karya Yossi dan Aqsa menyi–sihkan hampir 4.000 siswa dari 28 negara yang berlaga di negeri Selat Bosporus itu. Inovasi Yossi dan Aqsa hanya kalah oleh kendaraan operasi jarak jauh temuan tiga siswa asal Rumania.

Berbeda dengan karya anak-anak Rumania yang rumit dan memerlukan material berbasis teknologi canggih dan mahal, temuan Yossi boleh dibilang amat sederhana: sebuah tongkat yang terbuat dari pipa plastik—yang biasa digunakan untuk saluran air—dengan sedikit lengkungan sebagai gagangnya. ”Satu tongkat bisa dibuat dengan belanja material Rp 250 ribu,” kata Yossi. Ia mengatakan justru karena sederhana itulah tongkat pintar menyabet medali—karena mudah diproduksi secara massal.

Menurut Aqsa, ide temuan sederhana ini muncul karena ia sering melihat orang buta kesulitan melangkah, apalagi menempuh jarak jauh sendirian. Mereka lebih banyak bergantung pada bimbingan orang lain atau anjing. Data Departemen Kesehatan menyebutkan jumlah penyandang tunanetra di Tanah Air sekitar tiga juta orang. Ini merupakan yang terbesar di Asia dan nomor tiga di dunia. ”Kalau bisa menemukan alat yang membantu mereka, ini merupakan sebuah sumbangan besar,” kata Aqsa.

Sesuai dengan sebutannya, tongkat pintar ini bertujuan mendukung tunanetra lebih banyak melakukan kegiatan secara mandiri. Ide dasar karya ini adalah pemanfaatan sensor ultrasonik untuk mendeteksi benda yang berada di sekitarnya dalam jarak satu hingga dua meter. Dengan memasang alat sensor itu pada tongkat, penyandang tunanetra mendapatkan informasi ihwal keberadaan benda yang bisa menghalangi langkahnya. Walhasil, pengguna tongkat bisa melangkah lebih cepat dan aman.

Cara kerja tongkat ini sederhana saja. Dalam posisi sakelar ”on”, sensor yang melekat pada tongkat akan mengeluarkan gelombang ultrasonik ke arah depan. Bila ada benda di depannya, gelombang akan memantul kembali ke sensor. Selanjutnya, sensor akan mengirimkan gelombang pantulan itu ke pusat kontrol sistem. Di pusat kontrol ini, gelombang itu diolah dan diubah menjadi isyarat dalam bentuk bunyi atau getar–an, mirip telepon seluler. Isyarat inilah yang akan menjadi panduan pengguna tongkat.

Isyarat bunyi keluar dari panel sirene kecil, sedangkan isyarat getar akan disampaikan oleh komponen penggetar yang diambil dari stik PlayStation. Jika ada benda di depan tongkat pada jarak maksimal satu setengah meter, sirene berbunyi ”tiiit… tiiit… tiiit…” seperti suara truk sedang mundur. Makin dekat jarak benda tersebut, makin cepat pula suara sirene atau makin kuat getarannya. Cara kerjanya mirip dengan sensor parkir pada mobil. Tongkat ini bekerja dengan baterai 12 volt yang bisa diisi ulang.

Satu lagi keunggulannya, teknologi tongkat pintar ini mudah dipelajari, bahkan oleh orang awam sekalipun. Material dan komponen yang diguna–kan dapat dibeli di toko-toko elektro–nik. Pendek kata, tukang reparasi elektronik pinggir jalan pun, kalau sudah melihat alat ini, dapat meniru seketika. ”Kuncinya adalah menghubungkan sensor dengan kontrol sistem sehingga bisa mengirim informasi kepada penggunanya,” kata Yossi. Nah, ”Yang mahal adalah belajar teori dan ketelaten–annya,” kata Aqsa.

Kedua remaja peneliti ini mengaku tak menemukan kesulitan berarti untuk membuat tongkat yang dilombakan itu. Desain tongkat hanya mengalami pembongkaran sekali, karena sebelumnya mereka menggunakan sistem kontrol digital. Padahal komponen ini agak sulit ditemukan di toko elektronik. Untuk mempermudah pembuatan secara massal, sistem kontrol diganti dengan jenis analog dan manual. Pada pengembangan selanjutnya, tongkat tak harus dibuat dengan pipa plastik, tapi bisa dengan besi atau kayu.

Demikian mudah dan sederhana, riset dan pembuatan tongkat itu cuma memakan tiga bulan. Hobi kedua anak itu pun sangat membantu pembuatan tongkat. ”Kami senang mengutak-atik alat elektronik dan main game,” kata Yossi. Karena hobi game ini, Yossi menggunakan peranti getar stik PlayStation untuk tongkatnya. Oktem Saidov, guru Fisika SMA Semesta yang menjadi pembim–bing kedua anak itu, mengatakan siswa di sekolahnya memang biasa melakukan riset dan rekayasa teknologi.

Raihan medali perak ini cukup membuat duet Yossi-Aqsa bungah, meski mereka harus bermodal ongkos sendiri—dari tiket pulang-pergi sampai akomodasi di sana—Rp 23 juta dan cuma me–ngantongi hadiah US$ 350 atau Rp 3,6 juta. ”Karena kami mewakili Indonesia di pentas dunia,” kata mereka. Kepala Sekolah SMA Semesta Mohammad Harris pun ikut bangga dengan keberhasilan anak didiknya itu. ”Kemampuan di bidang ilmu pasti memang kami tekankan pada para siswa. Jika ingin memiliki prestasi dunia, harus menguasai ilmu pasti,” katanya.

Kebanggaan yang sama menyelimuti Tim Olimpiade Fisika Indonesia yang dua pekan lalu kembali ke Tanah Air. Tim yang beranggotakan delapan siswa SMA dari berbagai daerah itu menyabet dua medali emas pada ajang Asian Physics Olympiad ke-10 di Bangkok, Thailand, 24 April-2 Mei lalu. Selain mendapat emas, tim ini mengumpulkan empat perak dan dua perunggu. ”Berarti semua anggota tim pulang dengan membawa medali,” kata Hendra Kwee, pembimbing Tim Olimpiade.

Yang juga membuat bangga tim ini adalah keberhasilan salah satu anggotanya, Winson Tanputraman, menjadi peserta dengan nilai eksperimen tertinggi, yaitu 17,90 dari skala 20,00. Hendra mengatakan Winson, yang masih duduk di kelas II SMAK 1 BPK Pe–nabur, Jakarta, memang sudah dijagokan bakal merebut emas. ”Dia sudah berpengalaman pada kejuaraan sebelumnya,” katanya. Adapun anggota tim lainnya baru pertama kali mengikuti olimpiade itu, ”Jadi masih grogi dan ada tekanan.”

Berbeda dengan pertandingan olahraga, olimpiade fisika hanya melombakan satu soal teori dan praktek untuk semua peserta. Soal teori diberi bobot nilai 30, sedangkan praktek 20. Juri memutuskan peserta yang mengumpulkan nilai minimal 42 akan mendapat emas. Pada kejuaraan kali ini, sebanyak 22 peserta berhasil merebut emas. Selain Indonesia, Thailand merebut lima emas, Cina Taipei tujuh, dan sisanya menjadi milik Cina. ”Cina memang selalu dominan,” kata Hendra.

Adek Media, Sohirin (Semarang)

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/05/18/ILT/mbm.20090518.ILT130312.id.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar