Selasa, 15 Juni 2010

Membangun Peradaban dengan Menghargai Perbedaan

Membangun Peradaban dengan Menghargai Perbedaan

Aria Indrawati - mitra-jaringan@yahoogroups.com, Tuesday, June 15, 2010 11:33 AM

Melalui kegiatan berkesenian,
UIN Sunan Kalijaga Mengalirkan Idiologi Inkllusi Di Jogja.

“Inklusi Dalam Seni Dan Budaya”, begitu tema yang dipilih, saat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jogjakarta mensyukuri dan merayakan tiga tahun berdirinya “Pusat Studi dan Layanan Difabel PSLD”. Berbagai jenis kesenian ditampilkan. Karawitan, pantomim, pembacaan puisi dan cerpen, tari serta band. Para pelakunya adalah seniman-seniman yang menyandang disabilitas bersama para sahabat yang bukan penyandang disabilitas. Begitulah cara universitas ini menggelorakan dan mengalirkan idiologi inklusi ke seluruh penjuru kampus dan sekitarnya. Acara diselenggarakan di halaman kampus timur, rabu 10 Juni. Pada kesempatan ini, UIN Jogja yang diwakili oleh rektornya, Prof Dr. Amin Abdullah, juga menandatangani perjanjian kerja sama dengan Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) yang diwakili oleh Ketua Umumnya Dr. Didi Tarsidi , untuk mempercepat pengembangan PSLD di universitas tersebut.

UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta adalah universitas pertama di Indonesia, yang dengan kesadaran dan inisyatifnya sendiri, merintis pusat layanan untuk mahasiswa penyandang disabilitas. Ini dapat terjadi karena universitas ini memiliki rector dan beberapa dosen-dosen muda, yang sekembali mereka dari belajar di luar negeri berupaya menumbuhkan semangat “inklusi” di almamater mereka. Telah banyak pejabat dan orang-orang terpelajar di negeri ini belajar dan bepergian ke luar negeri. Namun, tak banyak yang benar-benar mau mengaplikasikan apa yang mereka pelajari dan lihat dari manca Negara di Negara sendiri.

Apa yang mereka pelajari dan lihat di sana adalah bahwa, universitas menyediakan layanan khusus bagi mahasiswa yang berkebutuhan khusus, yaitu mereka yang menyandang disabilitas, apa pun jenisnya.

Pertuni mencatat sudah sejak tahun enampuluhan tunanetra di Indonesia mulai, dengan usaha keras mereka sendiri, menempuh studi di perguruan tinggi. Sebagian berhasil menyelesaikannya, dan sebagian lain tidak, berhenti di tengah jalan karena tak kuasa menembus tebalnya hambatan, yaitu belajar tanpa dukungan system layanan khusus; Bagi mereka yang berhasil, itu karena dukungan keluarga yang sangat baik atau, karena memiliki daya juang yang luar biasa, sehingga dengan kreativitas yang dimiliki, mereka berhasil menembus hambatan.

Idiologi inklusi dalam pendidikan yang memberikan hak dan kesempatan yang sama bagi para penyandang disabilitas untuk menempuh studi di sekolah umum dan perguruan tinggi masuk ke Indonesia pada tahun 1998

Di tingkat pendidikan dasar dan menengah, dorongan untuk menyediakan sarana dan layanan khusus bagi siswa penyandang disabilitas agar mereka dapat bersekolah di sekolah umum telah makin meningkat. Hal ini terjadi karena peran aktif organisasi non pemerintah baik dalam maupun luar negeri, yang secara bertubi-tubi memberikan dorongan, desakan serta bantuan baik dana maupun tenaga ahli agar Indonesia mulai membangun system pendidikan inklusi. Hasilnya pun mulai dirasakan, meski baru sangat sedikit.

Namun, Pertuni merasakan upaya peningkatan kualitas hidup tunanetra melalui pendidikan ini belum memberikan dampak yang berarti. Di samping karena jumlahnya pun belum ada peningkatan secara signifikan, juga karena gerakan mendorong peningkatan kualitas pendidikan ini baru di tataran pendidikan dasar dan menengah.

Olehkarenanya, melalui kerja sama dengan International Council of Education for People with Visual Impairment (ICEVI) dan The Nippon Foundation (TNF,), sejak tahun 2006 Pertuni mengkoordinatori gerakan kampanye kesadaran bertajuk “higher education for students with visual impairment”.

Setelah sebelumnya bekerja sama dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), kali ini, organisasi kemasyarakatan tunanetra di Indonesia ini menjalin kerja sama dengan UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.

Yang membedakan UIN Jogjakarta dengan ketiga universitas lainnya yang telah bekerja sama dengan Pertuni adalah, jika ketiga universitas tersebut baru memulai rintisan pusat layanan untuk mahasiswa tunanetra setelah mendapat dorongan dan stimulasi dari Pertuni, sedangkan UIN Jogjakarta telah memulainya atas inisyatif sendiri. Bersama Pertuni, setelah mengadakan pagelaran seni tersebut, PSLD UIN Sunan kalijaga akan menyusun panduan, bagaimana layanan di perguruan tinggi seharusnya mengakomodasikan kebutuhan khusus mahasiswa penyandang disabilitas melalui penyelenggaraan pusat layanan untuk mereka. Buku panduan ini diharapkan dapat dijadikan referensi bagi perguruan tinggi lain, baik negeri maupun swasta, agar entitaas pendidikan tinggi ini “lebih ramah” pada para penyandang disabilitas, dan memungkinkan mereka menjadi bagian dari proses belajar mengajar di sana.

Setelah mulai dengan pengembangan konsep, menghimpun masukan dari stake holder terkait serta menyiapkan alat-alat yang minimal dibutuhkan -- proses ini berlangsung selama kurang lebih dua tahun sejak tahun 2005, akhirnya, pada 2 Mei 2007, bertepatan dengan peringatan hari Pendidikan Nasional Hardiknas, UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta secara resmi melahirkan Pusat Studi dan Layanan Difabel (mahasiswa dengan disabilitas) – PSLD.

Kini PSLD telah berumur tiga tahun. Ia terus bergerak, mengalirkan semangat dan idiologi inklusi ke seluruh penjuru universitas; dewan senat perguruan tinggi, dosen, mahasiswa, staf administrasi, petugas keamanan, perpustakan serta masjid kampus. Berawal dari penyediaan alat-alat teknologi adaptif guna membantu tunanetra mengakses referensi dan informasi, Perlahan tapi pasti, semangat inklusi ini terus mengalir ke sudut kampus, hingga akhirnya ia menyatu dengan gerak, langkah, tarikan serta hembusan nafas, pikiran dan kata-kata.

Lahirnya idiologi inklusi, yang mempersepsi penyandang disabilitas sebagai bagian dari perbedaan, setara dengan perbedaan bangsa, ras, agama, suku, bahasa, serta gender, adalah tahapan penting dari perkembangan peradaban manusia. Dengan idiologi ini, penyandang disabilitas diakui keberadaanya, dihargai, dilindiungi serta dipenuhi segala kebutuhan khususnya; tak sebagaimana sebelumnya, mereka dipisahkan dari masyarakat, ada tapi dianggap tak ada, diabaikan dan distigmakan sebagai mahluk-mahluk yang tak berdaya.

Pertanyaan kita semua, berapa banyak universitas di negeri ini yang seperti UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta? Setelah berlonba-lomba menjadikan kampus mereka “berstandar internasional” yang antara lain ditandai dengan makin mahalnya biaya pendidikan tinggi, pernahkah mereka berpikir bahwa universitas yang berstandar internasional itu harus menyediakan fasilitas khusus bagi mahasiswa penyandang disabilitas?

Dengan mengaplikasikan idiologi inklusi di kampusnya, UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta telah menyatakan dirinya sebagai lembaga pendidikan, yang melahirkan generasi muda yang mengerti bagaimana menghargai perbedaan.

Dapatlah dimengerti jika didalilkan bahwa, tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa antara lain dapat diukur dengan “bagaimana masyarakat dan bangsa tersebut memperlakukan para penyandang disabilitas”,; diperlakukan secara adil atau diabaikan, atau bahkan didiskriminasikan?


Untuk keterangan lebih lanjut, silakan hubungi:
Pusat Studi dan Layanan Difabel PSLD UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta:
1. Ibu Andayani: 085228626333
2. Bapak Asep: 08159292272
Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni):
Aria Indrawati: 081511478478

Tidak ada komentar:

Posting Komentar